Pecandu Musik Dead Metal Dipulihkan
Lucky mengenal aliran musik Dead Metal sejak SMP. Karena
kecintaannya dengan musik itu mempengaruhi kehidupannya hingga dia
menjadi anak yang berontak, menutup diri bahkan selama 6 tahun dia tidak
pernah kegereja.
Aliran deathmetal adalah musik aliran keras dan di aliran musik itu juga di dalam CD mereka ada gambar-gambar yang menggambarkan pelecehan mengenai Tuhan Yesus, bagaimana Yesus bermain dengan para wanita. Ada gambarnya dan liriknya juga mengandung penghujatan terhadap Yesus. Tapi saat itu karena Lucky dibutakan maka Lucky tidak peduli dengan segala sesuatunya itu. Justru Lucky sangat menyukai jenis musik mereka.
Lucky sering ngobrol dan bertukar pikiran dengan mereka. Pola pikir Lucky jadi berubah sejak ikut dengan perkumpulan mereka, Lucky jadi suka berontak dengan orangtua. Dan lama-kelamaan tanpa Lucky sadari Lucky menjadi pribadi yang dingin dan menarik diri dari keluarga. Jadi kalau ada saudara yang datang kerumah maka Lucky suka masuk ke kamar, dan kalau Lucky melihat orang, maka ketika mereka mengajak Lucky berbicara, saya sering tertunduk. Lucky sepertinya minder, Lucky merasa sendiri dan Lucky merasa cocok bila bercerita dengan sesama penganut dan musisi-musisi keras yang gelap itu. Kesombongan dan lirik kematian ia ciptakan melalui keahliannya bermain musik.
Pada suatu hari Lucky menderita sakit kepala dan sangat sakit rasanya. Karena sakit kepala itu Lucky derita selama satu bulan. Pada saat itu Lucky ketakutan, Lucky takut mati, Lucky takut sendiri. Kepala itu selama sebulan sakit sekali, ketika di bawa ke rumah sakit kata dokternya berkata tidak sakit apa-apa, tapi di kepala Lucky sudah berkecemuk berbagai pikiran, sakit apa Lucky sebenarnya ini, apa tumor, kanker atau apa.
Saat ia menderita karena sakit kepalanya, Lucky mulai masuk ke kamar kakaknya. Saat itu penasaran juga ingin mendengar lagu rohani dan akhirnya ia memasangnya. Saat itu Lucky menangis, dan tidak pernah Lucky merasakan seumur hidupnya. Saat itu lagu yang Lucky dengar adalah “Ku bri yang terbaik bagimu, kurelakan segalanya..” Lucky memasangnya pada siang hari dan mendengarkan lagu itu. Lucky menangis dan merasa lega. Lucky dalam posisi duduk dan menangis. Lucky merasa penyakitnya sembuh. Keesokan harinya ia memasangnya lagi lalu ada suara audible “kamu sudah saya pilih sejak dalam kandungan”. Ketika itu Lucky mengingat lagi bagaimana dulu ia pernah ke gereja dan mengenang bagaimana orang-orang itu memuji Tuhan, maka Lucky ingin sekali ke gereja.
Setelah itu ia mulai berbeda. Kasih Yesus yang membuatnya bertobat. Sejak saat itu ia mulai menyingkirkan semua barang-barnag yang berhubungan dengan musik metal itu. ia mencopot semua poster dan membuang semua kaset-kasetnya.
Saat ini Lucky sudah tergabung dalam satu band yang beranggotakan anak-anak muda yang bermusik untuk Tuhan. Dengan Sobat Band,. Lucky melangkah dengan pasti. Nilainya akademiknya menjadi cemerlang dan ia sekarang mampu menciptakan lagiu-lagu indah untuk kemuliaan nama Tuhan.
Sumber Kesaksian:
Lucky Barus (jawaban.com)
Aliran deathmetal adalah musik aliran keras dan di aliran musik itu juga di dalam CD mereka ada gambar-gambar yang menggambarkan pelecehan mengenai Tuhan Yesus, bagaimana Yesus bermain dengan para wanita. Ada gambarnya dan liriknya juga mengandung penghujatan terhadap Yesus. Tapi saat itu karena Lucky dibutakan maka Lucky tidak peduli dengan segala sesuatunya itu. Justru Lucky sangat menyukai jenis musik mereka.
Lucky sering ngobrol dan bertukar pikiran dengan mereka. Pola pikir Lucky jadi berubah sejak ikut dengan perkumpulan mereka, Lucky jadi suka berontak dengan orangtua. Dan lama-kelamaan tanpa Lucky sadari Lucky menjadi pribadi yang dingin dan menarik diri dari keluarga. Jadi kalau ada saudara yang datang kerumah maka Lucky suka masuk ke kamar, dan kalau Lucky melihat orang, maka ketika mereka mengajak Lucky berbicara, saya sering tertunduk. Lucky sepertinya minder, Lucky merasa sendiri dan Lucky merasa cocok bila bercerita dengan sesama penganut dan musisi-musisi keras yang gelap itu. Kesombongan dan lirik kematian ia ciptakan melalui keahliannya bermain musik.
Pada suatu hari Lucky menderita sakit kepala dan sangat sakit rasanya. Karena sakit kepala itu Lucky derita selama satu bulan. Pada saat itu Lucky ketakutan, Lucky takut mati, Lucky takut sendiri. Kepala itu selama sebulan sakit sekali, ketika di bawa ke rumah sakit kata dokternya berkata tidak sakit apa-apa, tapi di kepala Lucky sudah berkecemuk berbagai pikiran, sakit apa Lucky sebenarnya ini, apa tumor, kanker atau apa.
Saat ia menderita karena sakit kepalanya, Lucky mulai masuk ke kamar kakaknya. Saat itu penasaran juga ingin mendengar lagu rohani dan akhirnya ia memasangnya. Saat itu Lucky menangis, dan tidak pernah Lucky merasakan seumur hidupnya. Saat itu lagu yang Lucky dengar adalah “Ku bri yang terbaik bagimu, kurelakan segalanya..” Lucky memasangnya pada siang hari dan mendengarkan lagu itu. Lucky menangis dan merasa lega. Lucky dalam posisi duduk dan menangis. Lucky merasa penyakitnya sembuh. Keesokan harinya ia memasangnya lagi lalu ada suara audible “kamu sudah saya pilih sejak dalam kandungan”. Ketika itu Lucky mengingat lagi bagaimana dulu ia pernah ke gereja dan mengenang bagaimana orang-orang itu memuji Tuhan, maka Lucky ingin sekali ke gereja.
Setelah itu ia mulai berbeda. Kasih Yesus yang membuatnya bertobat. Sejak saat itu ia mulai menyingkirkan semua barang-barnag yang berhubungan dengan musik metal itu. ia mencopot semua poster dan membuang semua kaset-kasetnya.
Saat ini Lucky sudah tergabung dalam satu band yang beranggotakan anak-anak muda yang bermusik untuk Tuhan. Dengan Sobat Band,. Lucky melangkah dengan pasti. Nilainya akademiknya menjadi cemerlang dan ia sekarang mampu menciptakan lagiu-lagu indah untuk kemuliaan nama Tuhan.
Sumber Kesaksian:
Lucky Barus (jawaban.com)
Lindiawati: Terlepas Dari Ikatan Ilmu Gaib
Dilahirkan dalam sebuah keluarga keturunan dukun, sejak umur 3
tahun Lindiawati memiliki kemampuan yang tidak lazim. Lindiawati
memiliki kemampuan supranatural dan ia mulai melihat hal-hal yang gaib.
Suatu sore Lindiawati yang sedang disuapi makan oleh kakaknya di teras rumah mereka melihat seorang nenek berbaju hijau memegang sebuah batok dan tongkat berjalan dan masuk ke dalam pohon. Pohon itu memang berlubang tengahnya. Saat Lindiawati mengatakan kepada kakanya apa yang baru saja dilihatnya, kakakLindiawati lari ketakutan.
Peristiwa-peristiwa mistis sering dialami Lindiawatisampai ia dewasa. Bahkan dirinya sering bermimpi aneh. Saat Lindiawati menceritakan perihal mimpi-mimpinya kepada kakaknya, kakak Lindiawati malah mengatakan kalau dirinya sudah dipelet. Kakaknya pun mengajakLindiawati pergi ke orang pintar dan diisi dengan ilmu yang bisa mengimbangi peletannya.
Lindiawati dibekali ilmu untuk memagari diri. Tanpa disadari, ia memperhambakan dirinya kepada setan. Saat mengikuti ritual itu, kepala Lindiawati dan dua kakak iparnya ditutupi dengan kain tujuh warna. Lalu di hadapan mereka ada tujuh macam minuman, tujuh macam kembang, tujuh macam kue dan tujuh macam air sumur. Kemudian Lindiawati diminta mengikuti ucapan dukun itu membaca mantera. Sesudah membaca mantera, Lindiawati disuruh minum air kembang dan ditiup. Setelah acara ritual itu selesai, dukun itu meminta Lindiawati untuk megulurkan tangannya. Laludukun itu kemudian mengayunkan golok ke tangan Lindiawati dan memang senjata itu hanya meninggalkan garis merah saja di tangannya.
Semenjak saat itu, emosi Lindiawati menjadi tidak terkontrol. Bahkan hal itu berpengaruh terhadap hidup pernikahannya yang selalu diwarnai pertengkaran. Temperamen Lindiawati memang sangat tinggi. Hal kecil yang diributkan dalam rumah tangganya pun bisa menjadi sesuatu yang besar. Kelihatannya Lindiawati tidak memiliki kesabaran sama sekai. Emosional Lindiawati benar-benar tidak terkendali.
Dan Lindiawati sendiri sering menjadi nekat. Saat sedang kesal, keinginan untuk mati itu begitu kuat. Berulang kali Lindiawati mencoba untuk bunuh diri. Dari memotong nadinya dengan silet, menenggelamkan diri ke dalam bak mandi sampai mengurung diri di mobil yang tertutup rapat agar kekurangan oksigen.
Tidak hanya suami, anak-anaknya pun menjadi korban ketidaksabaran Lindiawati. Dalam hal emosi, jika Lindiawati sedang marah kepada anaknya, ia bisa memukuli anaknya dengan kejam. Dengan memakai ikat pinggang atau sapu, Lindiawatimemukuli anaknya sampai kulitnya lebam dan bengkak. Lindiawati menghajar anaknya sampai puas, sampai anaknya ketakutan. Saat memukuli anaknya itu,Lindiawati benar-benar merasakan benci kepada anaknya itu.
Bahkan buah hati Lindiawati yang masih balita pun tak luput menjadi sasaran kemarahannya. Keempat anaknya saat masih bayi sempat dibekap Lindiawati dengan menggunakan bantal jika mereka tidak berhenti menangis. Bahkan ditengkurapkan sampai tidak bisa bernafas dan dicubit bila tangisannya tidak juga kunjung berhenti. Kalau mendengar anaknya menangis, Lindiawati langsung merasa pusing. Ia merasakan seperti ada dorongan untuk membekap anaknya.
Bertahun-tahun Lindiawati terikat dan diperhamba oleh kuasa gaib. Suami dan anak-anaknya menjadi korban. Sampai suatu ketika Lindiawati mengikuti suatu pertemuan ibadah karena ajakan seorang teman. Awalnya Lindiawati merasa tidak betah karena aneh melihat orang berdoa dengan suasana yang cukup ribut. Kepalanya sakit tapi di hatinya Lindiawati merasa ada sesuatu yang berbeda. Hingga tanpa terasa minggu demi minggu Lindiawati mendatangi pertemuan ibadah tersebut.
Lindiawati pun pada akhirnya berterus terang dengan keterlibatannya dalam dunia mistis dan memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan dunia gaib.Lindiawati dilayani pelepasan. Saat ia pertama kali bermanifestasi, yang dilihatnya adalah kain terbang di sebelah kanannya, berwarna-warni. Menurut kesaksian anak-anak dan rekan pelayanan yang melayaninya, saat itu Lindiawati berteriak, menjerit, menangis, mengamuk dan berguling-guling seperti orang kerasukan.
“Mama seperti orang kerasukan gitu deh… jadi seperti ular,macan, burung….” kisah William, anak Lindiawati.
“Saya juga tidak tahu kalau istri saya itu ternyata punya ilmu sebenarnya. Saat melihat pelepasan itu, saya baru tahu kalau istri saya itu ilmunya banyak sekali,” kisah Hansen Haskindy, suami Lindiawati.
Saat ikatan di alam roh itu diputuskan, Lindiawati melihat sang dukun datang, membelakangi Lindiawati dan pergi. Setelah selesai pelayanan kelepasan itu,Lindiawati mulai merasa enak dan merasa lega. Sampai akhirnya Lindiawati meminta Tuhan Yesus masuk ke dalam hatinya dan Lindiawati merasakan ketenangan yang luar biasa, suatu damai sejahtera yang luar biasa. Lindiawati juga merasakan sukacita yang luar biasa, sesuatu yang belum pernah dirasakannya di dalam hidupnya.
Semua ilmu yang ada di dalam dirinya telah dilepaskan. Kini Lindiawati memiliki hidup yang baru, yang berbeda dari sebelumnya. Tentu saja keluarganya yang paling merasakan dampak dari perubahan Lindiawati.
“Dulu itu saya sama mama merasa kesal, nakal sedikit saja dipukul, dicubit, disambet sampai merah-merah gitu. Kalau sekarang, sifat mama sudah berubah, jadi mama yang baik,” kisah William menceritakan perubahan Lindiawati.
Saat ini Lindiawati pun sudah berubah menjadi lebih sabar, lebih baik dan care sama anak-anak. Di dalam rumah tangganya saat ini penuh dengan sukacita dan Lindiawatijuga jadi banyak mengalah. Lindiawati pun menjadi pribadi yang semakin dewasa, sangat jauh berbeda dengan Lindiawati yang dulu sebelum ia mengenal Tuhan. Yesus memang suatu sosok yang sangat handal. Saat kita berseru, saat kita mau mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus, Ia akan datang.
“Saya sangat merasakan bahwa Tuhan Yesus itu memang benar-benar ada dan mengasihi saya. Saya sangat berterima kasih karena Tuhan Yesus menyelamatkan saya, Tuhan Yesus mau bersabar sampai saya bertobat, diselamatkan dan Tuhan mau memakai saya,” kisah Lindiawati menutup kesaksiannya dengan penuh haru.
Sumber Kesaksian :
Lindiawati (jawaban.com)
Suatu sore Lindiawati yang sedang disuapi makan oleh kakaknya di teras rumah mereka melihat seorang nenek berbaju hijau memegang sebuah batok dan tongkat berjalan dan masuk ke dalam pohon. Pohon itu memang berlubang tengahnya. Saat Lindiawati mengatakan kepada kakanya apa yang baru saja dilihatnya, kakakLindiawati lari ketakutan.
Peristiwa-peristiwa mistis sering dialami Lindiawatisampai ia dewasa. Bahkan dirinya sering bermimpi aneh. Saat Lindiawati menceritakan perihal mimpi-mimpinya kepada kakaknya, kakak Lindiawati malah mengatakan kalau dirinya sudah dipelet. Kakaknya pun mengajakLindiawati pergi ke orang pintar dan diisi dengan ilmu yang bisa mengimbangi peletannya.
Lindiawati dibekali ilmu untuk memagari diri. Tanpa disadari, ia memperhambakan dirinya kepada setan. Saat mengikuti ritual itu, kepala Lindiawati dan dua kakak iparnya ditutupi dengan kain tujuh warna. Lalu di hadapan mereka ada tujuh macam minuman, tujuh macam kembang, tujuh macam kue dan tujuh macam air sumur. Kemudian Lindiawati diminta mengikuti ucapan dukun itu membaca mantera. Sesudah membaca mantera, Lindiawati disuruh minum air kembang dan ditiup. Setelah acara ritual itu selesai, dukun itu meminta Lindiawati untuk megulurkan tangannya. Laludukun itu kemudian mengayunkan golok ke tangan Lindiawati dan memang senjata itu hanya meninggalkan garis merah saja di tangannya.
Semenjak saat itu, emosi Lindiawati menjadi tidak terkontrol. Bahkan hal itu berpengaruh terhadap hidup pernikahannya yang selalu diwarnai pertengkaran. Temperamen Lindiawati memang sangat tinggi. Hal kecil yang diributkan dalam rumah tangganya pun bisa menjadi sesuatu yang besar. Kelihatannya Lindiawati tidak memiliki kesabaran sama sekai. Emosional Lindiawati benar-benar tidak terkendali.
Dan Lindiawati sendiri sering menjadi nekat. Saat sedang kesal, keinginan untuk mati itu begitu kuat. Berulang kali Lindiawati mencoba untuk bunuh diri. Dari memotong nadinya dengan silet, menenggelamkan diri ke dalam bak mandi sampai mengurung diri di mobil yang tertutup rapat agar kekurangan oksigen.
Tidak hanya suami, anak-anaknya pun menjadi korban ketidaksabaran Lindiawati. Dalam hal emosi, jika Lindiawati sedang marah kepada anaknya, ia bisa memukuli anaknya dengan kejam. Dengan memakai ikat pinggang atau sapu, Lindiawatimemukuli anaknya sampai kulitnya lebam dan bengkak. Lindiawati menghajar anaknya sampai puas, sampai anaknya ketakutan. Saat memukuli anaknya itu,Lindiawati benar-benar merasakan benci kepada anaknya itu.
Bahkan buah hati Lindiawati yang masih balita pun tak luput menjadi sasaran kemarahannya. Keempat anaknya saat masih bayi sempat dibekap Lindiawati dengan menggunakan bantal jika mereka tidak berhenti menangis. Bahkan ditengkurapkan sampai tidak bisa bernafas dan dicubit bila tangisannya tidak juga kunjung berhenti. Kalau mendengar anaknya menangis, Lindiawati langsung merasa pusing. Ia merasakan seperti ada dorongan untuk membekap anaknya.
Bertahun-tahun Lindiawati terikat dan diperhamba oleh kuasa gaib. Suami dan anak-anaknya menjadi korban. Sampai suatu ketika Lindiawati mengikuti suatu pertemuan ibadah karena ajakan seorang teman. Awalnya Lindiawati merasa tidak betah karena aneh melihat orang berdoa dengan suasana yang cukup ribut. Kepalanya sakit tapi di hatinya Lindiawati merasa ada sesuatu yang berbeda. Hingga tanpa terasa minggu demi minggu Lindiawati mendatangi pertemuan ibadah tersebut.
Lindiawati pun pada akhirnya berterus terang dengan keterlibatannya dalam dunia mistis dan memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan dunia gaib.Lindiawati dilayani pelepasan. Saat ia pertama kali bermanifestasi, yang dilihatnya adalah kain terbang di sebelah kanannya, berwarna-warni. Menurut kesaksian anak-anak dan rekan pelayanan yang melayaninya, saat itu Lindiawati berteriak, menjerit, menangis, mengamuk dan berguling-guling seperti orang kerasukan.
“Mama seperti orang kerasukan gitu deh… jadi seperti ular,macan, burung….” kisah William, anak Lindiawati.
“Saya juga tidak tahu kalau istri saya itu ternyata punya ilmu sebenarnya. Saat melihat pelepasan itu, saya baru tahu kalau istri saya itu ilmunya banyak sekali,” kisah Hansen Haskindy, suami Lindiawati.
Saat ikatan di alam roh itu diputuskan, Lindiawati melihat sang dukun datang, membelakangi Lindiawati dan pergi. Setelah selesai pelayanan kelepasan itu,Lindiawati mulai merasa enak dan merasa lega. Sampai akhirnya Lindiawati meminta Tuhan Yesus masuk ke dalam hatinya dan Lindiawati merasakan ketenangan yang luar biasa, suatu damai sejahtera yang luar biasa. Lindiawati juga merasakan sukacita yang luar biasa, sesuatu yang belum pernah dirasakannya di dalam hidupnya.
Semua ilmu yang ada di dalam dirinya telah dilepaskan. Kini Lindiawati memiliki hidup yang baru, yang berbeda dari sebelumnya. Tentu saja keluarganya yang paling merasakan dampak dari perubahan Lindiawati.
“Dulu itu saya sama mama merasa kesal, nakal sedikit saja dipukul, dicubit, disambet sampai merah-merah gitu. Kalau sekarang, sifat mama sudah berubah, jadi mama yang baik,” kisah William menceritakan perubahan Lindiawati.
Saat ini Lindiawati pun sudah berubah menjadi lebih sabar, lebih baik dan care sama anak-anak. Di dalam rumah tangganya saat ini penuh dengan sukacita dan Lindiawatijuga jadi banyak mengalah. Lindiawati pun menjadi pribadi yang semakin dewasa, sangat jauh berbeda dengan Lindiawati yang dulu sebelum ia mengenal Tuhan. Yesus memang suatu sosok yang sangat handal. Saat kita berseru, saat kita mau mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus, Ia akan datang.
“Saya sangat merasakan bahwa Tuhan Yesus itu memang benar-benar ada dan mengasihi saya. Saya sangat berterima kasih karena Tuhan Yesus menyelamatkan saya, Tuhan Yesus mau bersabar sampai saya bertobat, diselamatkan dan Tuhan mau memakai saya,” kisah Lindiawati menutup kesaksiannya dengan penuh haru.
Sumber Kesaksian :
Lindiawati (jawaban.com)
Pengampunan di Tengah Pengkhianatan Tiada Akhir
Hanya dalam satu kali pertemuan, Masta sudah terpikat dengan janji manis seorang pria. Tanpa pikir panjang, ia pun mengiyakan sebuah ajakan untuk kawin lari. Bagi orangtua Masta sendiri, kekecewaan menyelimuti hati mereka. Apalagi sebagai orangtua, mereka sama sekali tidak hadir dan dimintai restu terlebih dahulu. Mereka pun hanya dapat menangis menerima kenyataan ini.
Seperti membeli kucing dalam karung, Masta tak pernah menyangka sikap manis sang suami ternyata palsu. Setelah dua tahun bersama, sifat asli sang suami mulai terlihat. Masta selalu merasa curiga terhadap tingkah laku suaminya karena setiap malam ia tidak pernah pulang ke rumah. Dari adik ipar suaminyalah Masta mengetahui kalau suaminya memiliki rencana untuk menikah lagi. Masta sangat terpukul mendengar kabar itu. Apalagi kondisi Masta sendiri sedang hamil tua saat itu.
Rasa penasaran tiba-tiba membakar hati Masta. Pagi-pagi saat suaminya pulang, Masta diam-diam berniat datang ke rumah wanita yang hendak merebut suaminya. Tanpa diketahui Masta, suaminya ternyata mengikuti dirinya dari belakang. Namun setibanya di sana, wanita selingkuhan suaminya tidak ada di sana. Merasa dipermalukan, suami Masta langsung menyeret Masta pulang. Tidak hanya sampai di situ, pukulan dan tamparan pun diterima Masta yang sedang hamil besar. Bahkan suaminya dengan tegas bermaksud menceraikan Masta saat itu juga. Hati Masta sangat pedih namun ia hanya dapat menangis.
Campur tangan orangtua Masta mampu menyelesaikan permasalahan mereka untuk sementara waktu. Niat untuk menceraikan Masta pun urung dilakukan. Permintaan orangtua Masta yang menentang perceraian mampu meredam nafsu sang suami.
Kelahiran anak pertama mereka seakan menghapus segalanya. Keadaan itu bertahan sampai Masta dikaruniai lima orang anak. Sampai sebuah kabar dari Jakarta membuat Masta mengambil sebuah keputusan penting. Ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Mendengar kabar itu, anak-anak Masta menyambut dengan gembira. Padahal sebenarnya kabar buruklah yang Masta terima.
Masta menerima surat dari adik mertuanya yang tinggal di Jakarta dan mengatakan kalau suaminya ternyata suka main perempuan juga di sana. Kepindahan Masta dan anak-anaknya ke Jakarta menyusul suaminya tidak memperbaiki keadaan sama sekali. Seringkali Masta harus menerima perkataan-perkataan sinis yang penuh sindiran kepada dirinya. Suaminya sepertinya tidak menghargai keberadaan Masta dan anak-anaknya di sana. Sebagai seorang istri, Masta merasa menjadi istri yang tidak berharga bagi suaminya.
Untuk menambah penghasilan suaminya, Masta pun menjalankan usaha simpan pinjam. Dan dalam waktu satu setengah tahun, mereka sudah dapat memiliki rumah sendiri. Namun rumah itu tak bisa membawa kebahagiaan bagi Masta. Atas saran seorang saudara, rumah itu dijual untuk modal usaha.
Hingga sesuatu yang buruk pun terjadi. Salah satu anak mereka mengalami sakit sampai akhirnya meninggal dunia. Semuanya terjadi begitu cepat. Sepeninggal anak mereka, suami Masta pun semakin frustrasi. Tidak hanya ditinggal mati salah seorang anak mereka, pekerjaan pun ia tidak punya sedangkan hasil penjualan rumah yang dijadikan modal usaha pun tidak menghasilkan apa-apa. Semuanya terbuang sia-sia.
Kejadian itu sangat berdampak kepada sifat suami Masta. Terkadang ia sangat memanjakan anak-anaknya, namun tak jarang ia menjadi sangat kasar. Saat sedang marah, apapun yang ada di tangannya akan dipakai untuk memukul anak-anaknya. Masta benar-benar tidak berani membela anak-anaknya saat suaminya sedang marah. Namun saat suaminya sudah selesai memukul anak-anaknya, barulah Masta berani menasehati suaminya. “Terlalu keras kamu bapak sama anak-anak kita. Nanti mereka bawa akar pahit dari kamu,” ujar Masta pada suaminya.
Entah apa yang dipikirkan suaminya. Saat Masta melahirkan anak kedelapan, suaminya tega meninggalkan Masta dan anak-anaknya tanpa kabar. Masta hanya dapat berlutut kepada Tuhan karena Masta melihat ketujuh anaknya dan seorang bayi yang baru lahir, ia tak tahu bagaimana caranya harus bertahan menghidupi kedelapan anaknya seorang diri tanpa pekerjaan yang tetap. Belum lagi anaknya yang baru lahir, bagaimana mungkin Masta tega meninggalkannya untuk mencari nafkah? Masta datang kepada Tuhan dan menyerahkan hidupnya dan kedelapan anaknya sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan.
Tepat di saat keputusasaannya, seseorang datang menolong Masta. Hamba Tuhan ini menasehati Masta supaya semakin dekat kepada Tuhan dan Masta diarahkan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi. Setelah menerima Yesus, Masta terus dibimbing di gereja dan Masta semakin dapat melihat kuasa Tuhan yang luar biasa. Hamba Tuhan ini juga mengajarkan Masta untuk berani melakukan apapun demi menghidupi anak-anaknya.
Demi menghidupi anak-anaknya, harga diri dan peluh tak lagi Masta perdulikan. Namun Masta tak pernah menyangka apa yang akan dialami anak pertamanya, James, saat berniat mencari ayahnya yang tak pernah pulang ke Sumatera. Suatu peristiwa pahit telah menantinya. James melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya sedang bermesraan dengan wanita lain. Tak cukup sampai di situ, James harus mendapati kenyataan kalau sebenarnya ayahnya adalah seorang germo. Ia tidak hanya mencari wanita-wanita cantik untuk ditawarkan kepada para lelaki hidung belang, namun ia juga berzinah dengan para wanita itu.
Hal yang lebih menyakitkan lagi harus James terima saat ia mengajak ayahnya pulang. Dengan kasar ayahnya mengusir James untuk pergi, bahkan menyuruh James tidak lagi memanggilnya ayah, melainkan om. Di hadapan James dan para wanita itu, dengan lantang ia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki istri dan juga anak. Sebelum James pulang, ayahnya sempat mengancamnya untuk tidak mengatakan hal ini kepada ibunya atau James akan ia bunuh!!
Takut akan ancaman ayahnya dan juga takut akan kemungkinan ibunya yang akan bunuh diri jika mengetahui keadaan ini, James pun menulis surat kepada ibunya dan mengatakan kalau ia tidak dapat menemukan ayahnya. Namun Masta tidak percaya, bahkan ia semakin penasaran. Kalau memang suaminya sudah meninggal, paling tidak ia harus tahu dimana suaminya telah meninggal. Masta pun memutuskan untuk pergi sendiri mencari suaminya. Masta pun pulang ke Siantar.
Namun di sana, Masta hanya bertemu dengan adik suaminya. Karena tidak percaya, sesaat setelah meninggalkan rumah itu, Masta pun kembali ke rumah adik iparnya. Dan benar, suaminya ternyata sudah berada di sana. Saat itulah suaminya mengaku kalau di Siantar ada teman wanitanya yang begitu baik kepadanya dan memberikan modal untuk membuka bar di sana. Namun ia tidak menggambarkan wanita itu lebih jauh, hanya menyebutnya sebagai pelayan, pelayan yang dapat memodali dirinya membuka bar di Siantar. Padahal dirinya adalah germo dari wanita itu. Suaminya pun berjanji akan mengikuti Masta kembali ke rumah.
Namun janji hanyalah tinggal janji. Baru beberapa bulan saja, suami Masta kembali pergi. Untuk kesekian kalinya, hati Masta terluka. Namun di tengah kekecewaan dan kesedihannya, Masta tak berhenti berdoa untuk suami dan anak-anaknya.
Di lain tempat, suami Masta yang berniat hendak menjual bar miliknya mengalami penipuan dan hidup layaknya seorang gelandangan. Sampai keputusasaan mengingatkannya akan keluarganya. Penyesalan pun mulai menyelimuti hatinya saat ia mengingat segala perbuatan yang dilakukannya terhadap Masta, istrinya dan juga anak-anaknya. Dalam keadaan sakit, ia pun memutuskan untuk pulang, kembali kepada keluarganya.
Saat itu Masta sedang tidak berada di rumah. Ia sedang pergi bersama James, anaknya. Setibanya di rumah, Masta dan James tentu saja sangat terkejut melihat kehadiran orang yang selama ini telah menyia-nyiakan hidup mereka. Masta hanya bisa bengong di luar rumah, tidak berani melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Namun James, anaknya, serta merta berteriak kegirangan dan langsung memeluk ayahnya. Hati Masta pun dipenuhi kegalauan. Satu sisi, hatinya luluh melihat sikap anaknya yang begitu bahagia dapat melihat ayahnya kembali. Namun di sisi lain, Masta merasa tak sanggup menghadapi suaminya mengingat penghinaan yang telah diterimanya selama ini. Masta pun berseru kepada Tuhan agar pengampunan-Nya bisa mengalir dan ia bisa mengampuni suaminya sekali lagi. Apapun yang dikatakan Masta saat itu kepada suaminya ditanggapi dengan kemauan yang serius dari sang suami. Awal pemulihan pun terjadi saat itu di keluarga mereka.
“Tuhan begitu luar biasa. Apapun yang terjadi, Dia selalu melihat kita sebagai anak-anak kesayangan-Nya,” ujar Masta di sela-sela kesaksiannya.
Namun setelah beberapa tahun berlalu, sebuah rahasia akan terkuak lewat pengakuan sang suami. Dalam keadaan sakit parah setelah serangan jantung yang hebat, James mencoba mengajak ayahnya berbicara dari hati ke hati. Ia meminta ayahnya untuk mengakui dosa yang selama ini belum pernah mereka ketahui karena James sendiri merasa kalau ayahnya masih menyimpan rahasia di antara mereka. Saat itulah, ayahnya mengakui kalau Monaris, keponakan Masta, adalah anak dari hasil hubungannya dengan adik kandung Masta. Bagaikan tertimpa langit, seketika itu juga Masta jatuh pingsan. Ia benar-benar tak menyangka suaminya sanggup melakukan hal itu kepada dirinya. Adik kandungnya sendiripun sanggup mengkhianati dirinya. Apalagi suaminya telah menyimpan rahasia ini selama puluhan tahun karena saat pengakuan itu terjadi, Monaris telah berusia 19 tahun.
“Tuhan, ampuni suami saya Tuhan. Karena saat itu saya sudah mengenal Tuhan, saya hanya bisa berkata ampuni suamiku Tuhan. Sudah berumur 19 tahun anak ini, baru suami saya membuka rahasia aib ini kepada saya. Saat itu saya pingsan. Saya tidak dapat menerima kenyataan ini lagi. Tapi saya mengambil keputusan untuk mengampuni suami saya dan menerima Monaris sebagai anak saya sendiri. Walaupun kenyataan ini sangat pahit, tapi pasti Tuhan akan membuatnya menjadi sukacita buat saya,” kisah Masta dengan penuh keharuan.
Pengampunan dan kesabaran Masta perlahan-lahan mengubahkan sikap sang suami. Dengan cinta dan kesabaran, Masta terus merawat suaminya yang saat itu mulai sakit-sakitan. Setelah mengalami sakit yang berkepanjangan, 1 November 2002 suami Masta pun dipangil Tuhan untuk selamanya. Beberapa tahun kemudian, Masta kembali menemui adiknya. Saat itu juga hubungan antara Masta dan adiknya dipulihkan.
Kasih Yesus telah memulihkan hati Masta dan adiknya. Hingga kini, Masta dan anak-anaknya tak lagi hidup dalam kekecewaan.
“Saya bangga sekali memiliki mama seperti mama saya. Dia selalu berdoa sama Tuhan, agar keluarganya bisa selalu bersama dan berbahagia sekalipun mama selama hidupnya selalu menderita. Kalau saya pribadi sih sebenarnya hanya mengharapkan agar keluarga saya rukun-rukun saja. Tetap sayang sama mama walaupun Tuhan hanya memberikan seorang mama di sisi kami,” ujar Delima Sondang Samosir, salah seorang anak perempuan Masta.
“Saya sangat mengucap syukur kepada Tuhan Yesus karena anak-anak saya tidak membawa akar pahit dari kelakuan ayahnya. Saya mendapat pertolongan hanya dari Tuhan Yesus sendiri. Tidak ada unsur yang lain, hanya Tuhan Yesus sendiri yang menolong kami sekeluarga. Tuhan itu sangat baik bagi keluarga kami,” ujar Masta menutup kesaksiannya.
Kesaksian Hidup Ahok
Saya lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, di Belitung Timur, di dalam keluarga yang belum percaya kepada Tuhan. Beruntung sekali sejak kecil selalu dibawa ke Sekolah Minggu oleh kakek saya. Meskipun demikian, karena orang tua saya bukan seorang Kristen, ketika beranjak dewasa saya jarang ke gereja.
Saya melanjutkan SMA di Jakarta dan di sana mulai kembali ke gereja karena sekolah itu merupakan sebuah sekolah Kristen. Saat saya sudah menginjak pendidikan di Perguruan Tinggi, Mama yang sangat saya kasihi terserang penyakit gondok yang mengharuskan dioperasi. Saat itu saya walaupun sudah mulai pergi ke gereja, tapi masih suka bolos juga. Saya kemudian mengajak Mama ke gereja untuk didoakan, dan mujizat terjadi. Mama disembuhkan oleh-Nya! Itu merupakan titik balik kerohanian saya. Tidak lama kemudian Mama kembali ke Belitung, adapun saya yang sendiri di Jakarta mulai sering ke gereja mencari kebenaran akan Firman Tuhan.
Suatu hari, saat kami sedang sharing di gereja pada malam Minggu, saya mendengar Firman Tuhan dari seorang penginjil yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa Yesus itu kalau bukan Tuhan pasti merupakan orang gila. Mana ada orang yang mau menjalankan sesuatu yang sudah jelas tidak mengenakan bagi dia? Yesus telah membaca nubuatan para nabi yang mengatakan bahwa Ia akan menjadi Raja, tetapi Raja yang mati di antara para penjahat untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Ia masih mau menjalankannya! Itu terdengar seperti suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi bagi saya merupakan sebuah jawaban untuk alasan saya mempercayai Tuhan. Saya selalu berdoa “Tuhan, saya ingin mempercayai Tuhan, tapi saya ingin sebuah alasan yang masuk akal, cuma sekedar rasa doang saya tidak mau," dan Tuhan telah memberikan PENCERAHAN kepada saya pada hari itu. Sejak itu saya semakin sering membaca Firman Tuhan dan saya mengalami Tuhan.
Setelah saya menamatkan pendidikan dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi pada tahun 1989, saya pulang kampung dan menetap di Belitung. Saat itu Papa sedang sakit dan saya harus mengelola perusahaannya. Saya takut perusahaan Papa bangkrut, dan saya berdoa kepada Tuhan. Firman Tuhan yang pernah saya baca yang dulunya tidak saya mengerti, tiba-tiba menjadi rhema yang menguatkan dan mencerahkan, sehingga saya merasakan sebuah keintiman dengan Tuhan. Sejak itu saya kerajingan membaca Firman Tuhan. Seiring dengan itu, ada satu kerinduan di hati saya untuk menolong orang-orang yang kurang beruntung.
Papa saat masih belum percaya Tuhan pernah mengatakan, “Kita enggak mampu bantu orang miskin yang begitu banyak. Kalau satu milyar kita bagikan kepada orang akhirnya akan habis juga.” Setelah sering membaca Firman Tuhan, saya mulai mengerti bahwa charity berbeda dengan justice. Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang yang dianiaya. Sedangkan justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang dirampok dan dianiaya. Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik.
Pada awalnya saya juga merasa takut dan ragu-ragu mengingat saya seorang keturunan yang biasanya hanya berdagang. Tetapi setelah saya terus bergumul dengan Firman Tuhan, hampir semua Firman Tuhan yang saya baca menjadi rhema tentang justice. Termasuk di Yesaya 42 yang mengatakan Mesias membawa keadilan, yang dinyatakan di dalam sila kelima dalam Pancasila. Saya menyadari bahwa panggilan saya adalah justice. Berikutnya Tuhan bertanya, "Siapa yang mau Ku-utus?" Saya menjawab, “Tuhan, utuslah aku”.
Di dalam segala kekuatiran dan ketakutan, saya menemukan jawaban Tuhan di Yesaya 41. Di situ jelas sekali dibagi menjadi 4 perikop. Di perikop yang pertama, untuk ayat 1-7, disana dikatakan Tuhan membangkitkan seorang pembebas. Di dalam Alkitab berbahasa Inggris yang saya baca (The Daily Bible – Harvest House Publishers), ayat 1-4 mengatakan God’s providential control, jadi ini semua berada di dalam kuasa pengaturan Tuhan, bukan lagi manusia. Pada ayat 5-10 dikatakan Israel specially chosen, artinya Israel telah dipilih Tuhan secara khusus. Jadi bukan saya yang memilih, tetapi Tuhan yang telah memilih saya. Pada ayat 11-16 dikatakan nothing to fear, saya yang saat itu merasa takut dan gentar begitu dikuatkan dengan ayat ini. Pada ayat 17-20 dikatakan needs to be provided, segala kebutuhan kita akan disediakan oleh-Nya. Perikop yang seringkali hanya dibaca sambil lalu saja, bisa menjadi rhema yang menguatkan untuk saya. Sungguh Allah kita luar biasa.
Di dalam berpolitik, yang paling sulit itu adalah kita berpolitik bukan dengan merusak rakyat, tetapi dengan mengajar mereka. Maka saya tidak pernah membawa makanan, membawa beras atau uang kepada rakyat. Tetapi saya selalu mengajarkan kepada rakyat untuk memilih pemimpin: yang pertama, bersih yang bisa membuktikan hartanya dari mana. Yang kedua, yang berani membuktikan secara transparan semua anggaran yang dia kelola. Dan yang ketiga, ia harus profesional, berarti menjadi pelayan masyarakat yang bisa dihubungi oleh masyarakat dan mau mendengar aspirasi masyarakat. Saya selalu memberi nomor telepon saya kepada masyarakat, bahkan saat saya menjabat sebagai bupati di Belitung. Pernah satu hari sampai ada seribu orang lebih yang menghubungi saya, dan saya menjawab semua pertanyaan mereka satu per satu secara pribadi. Tentu saja ada staf yang membantu saya mengetik dan menjawabnya, tetapi semua jawaban langsung berasal dari saya.
Pada saat saya mencalonkan diri menjadi Bupati di Belitung juga tidak mudah. Karena saya merupakan orang Tionghoa pertama yang mencalonkan diri di sana. Dan saya tidak sedikit menerima ancaman, hinaan bahkan cacian, persis dengan cerita yang ada pada Nehemia 4, saat Nehemia akan membangun tembok di atas puing-puing di tembok Yerusalem.
Hari ini saya ingin melayani Tuhan dengan membangun di Indonesia, supaya 4 pilar yang ada, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya wacana saja bagi Proklamator bangsa Indonesia, tetapi benar-benar menjadi pondasi untuk membangun rumah Indonesia untuk semua suku, agama dan ras. Hari ini banyak orang terjebak melihat realita dan tidak berani membangun. Hari ini saya sudah berhasil membangun itu di Bangka Belitung. Tetapi apa yang telah saya lakukan hanya dalam lingkup yang relatif kecil. Kalau Tuhan mengijinkan, saya ingin melakukannya di dalam skala yang lebih besar.
Saya berharap, suatu hari orang memilih Presiden atau Gubernur tidak lagi berdasarkan warna kulit, tetapi memilih berdasarkan karakter yang telah teruji benar-benar bersih, transparan, dan profesional. Itulah Indonesia yang telah dicita-citakan oleh Proklamator kita, yang diperjuangkan dengan pengorbanan darah dan nyawa. Tuhan memberkati Indonesia dan Tuhan memberkati Rakyat Indonesia.
Dibebaskan Tuhan Yesus dari "Perjanjian Darah dengan Iblis"
Siksaan
dan kekejaman sudah menjadi bagian dari kesehariannya sejak Tarunadjaya
Lawoto masih kecil. Sang ayah yang seringkali tak berbelaskasihan
menghajarnya telah menorehkan luka hati yang tak mudah disembuhkan."Saya sudah merasakan pukulan rotan, dan kepala sabuk atau ikat pinggang, bahkan saya juga pernah mengalami dicelupin papa di dalam drum yang diisi air, dan itu sangat-sangat membekas di hati saya. Saya bertanya-tanya "Mengapa papa saya sangat jahat?" Saya berusaha agar bisa cepat menyelesaikan sekolah dengan harapan dapat meneruskan kuliah di tempat lain dan saya bisa bebas."
Akhirnya
hari yang dinanti-nantikan oleh Taruna pun tiba, ia melanjutkan kuliah
di kota lain. Dan seperti burung yang lepas dari sangkar, Taruna menjadi
tidak terkendali menikmati kebebasannya. Ia bahkan bergabung dengan
sebuah kelompok gank yang selalu membuat keonaran. Hingga suatu hari,
sebuah kelompok gank yang terkenal dengan kebrutalannya mulai mengancam
kelompok Taruna.
"Gank
tersebut mulai melakukan tindakan-tindakan yang di luar dugaan. Banyak
anak-anak yang perantau dipalak, dan yang kedua mereka mulai main benda
tajam. Hal itu menyebabkan saya merasa sangat takut sekali. Saya
berpikir, saya harus mencari sesuatu yang dapat membuat saya menjadi
kuat sehingga saya bisa menjaga diri."
Tindakan
brutal dari gank lain tersebut membuat Taruna dan teman-temannya
benar-benar mati kutu. Ketakutan bercampur dendam dan amarah kian
berkecamuk dalam batin Taruna. Dan demi harga diri dan keselamatan
jiwanya, Taruna dan teman-temannya memutuskan pergi ke pedalaman untuk
berburu ilmu hitam.
"Saya
tidak memikirkan lagi apakah itu okultisme, atau apakah itu ilmu hitam,
bagi saya, pokoknya saya ingin kuat. Saat itu saya disuruh melakukan
sesuatu layaknya seekor binatang. Saya berada kira-kira berada 100 meter
dari tempat dimana guru saya berada sambil menggigit suatu benda.
Lalu
seluruh tubuh saya dirajah dengan darah ayam, dan saya menuju tempat
itu dengan merangkak. Saya tidak pikir panjang saat itu. Karena dalam
hati saya, isinya hanya dendam dan ketakutan. Saya menjalani semua
ritual yang ada, dan menganggap bahwa semua itu adalah sesuatu yang
benar.
Karena
saya dengar sejak dari kecil, sepertinya okultisme itu tidak berbahaya.
Saat itu seluruh tubuh saya dibacok dengan golok, dan ternyata saya
sudah kebal. Jadi setelah saya punya ilmu kebal itu, saya tidak takut
sama orang, saya merasa hebat dan itulah yang mengakibatkan saya
sambong."
Ilmu hitam telah menyatu dengan raga Taruna, kesombonganpun mulai merajai jiwanya.
"Salah satu kejadian adalah sewaktu saya di clurit. Harusnya sudah pasti sobek di dekat leher saya, tapi hal itu tidak terjadi."
Saat Taruna sudah mulai berumah tangga dan memiliki seorang istri, sesuatu terjadi dalam hidupnya.
"Saya
punya niat ingin hidup baik. Dan okultisme yang pernah saya miliki,
sudah saya tidak anggap ada lagi. Ritual yang dulu rutin saya lakukan
sudah tidak saya jalankan lagi. Saya di bacok mempan, terluka juga. Kena
beling, luka juga. Bahkan kena pisau, saya tetap luka. Tetapi akibatnya
dan efek yang ditimbulkan dalam hidup saya ternyata besar.
Sewaktu
saya mencari ilmu itu, ada perjanjian yang saya buat, saya setuju untuk
mengikuti aturan main kuasa kegelapan. Dan itu sebenarnya harga yang
harus saya bayar. Tetapi bukan karena ditengah perjalanan saya tidak mau
pakai ilmu itu lagi, lantas perjanjian yang dulu saya buat batal begitu
saja."
Akibat
perjanjiannya dengan kuasa gelap, kehidupan keluarganya mulai diganggu
oleh hal-hal yang bersifat supranatural. Dalam mimpi, istrinya melihat
ada roh-roh jahat yang mendatangi Taruna. Namun Taruna masih menyimpan
rapat-rapat rahasia tentang keterlibatannya dengan kuasa gelap di masa
lalu.
Hingga
suatu hari, anak pertama Taruna lahir kedunia ini. Namun, hari-hari
penuh kebahagiaan itu diisi oleh tangisan sang buah hati yang tidak
bisa dibuat tenang.
"Setelah
saya pikir-pikir, saya ingat kalau saya masih pegang jimat saat itu.
Lalu saya langsung barang-barang itu. Dan ketika saya membuang
barang-barang itu, saya anggap semua sudah hilang dan saya tidak lagi
terikat dengan kuasa gelap. Dan begitu saya buang, ternyata anak saya
tidak menangis lagi."
Dalam sebuah kunjungan ke rumah seorang hamba Tuhan bersama istrinya, Tarunadjaya di tegor hamba Tuhan tersebut.
"Saya
kaget begitu hamba Tuhan itu bicara pada saya, ‘Ta, kamu datang tidak
sendiri. Saya jawab, ‘Saya sendiri, saya datang bersama istri saya.`
Saya masih sombong saat itu. Hamba Tuhan itu berkata dengan tegas,
‘Tidak, saya melihat banyak kepala di belakang kamu.` Ternyata okultisme
saya yang dulu, itu masih ada pada saya. Saya tahu apa yang dimaksudkan
oleh hamba Tuhan tersebut, tapi saya berpura-pura tidak tahu."
Saat
sang istri tahu bahwa Taruna pernah terlibat ilmu hitam, ia pun
mengundang seorang teman untuk menolong Taruna agar lepas dari ikatan
ilmu hitam tersebut. Namun ketika Taruna bertemu dengan orang tersebut,
ia menunjukkan sikap tidak bersahabat.
"sewaktu
saya didoakan, saya muntah. Saya merasa ada sesuatu yang lepas. Tapi
hal itu tidak membuat sesuatu perubahan yang banyak bagi saya. Meskipun
saya merasakan ada kasih, tapi saya tidak tahu kasih apa yang melanda
hidup saya ini."
Mengetahui
suaminya masih belum lepas sepenuhnya dari ilmu hitam, istri Taruna
membawanya ke suatu ibadah. Saat Taruna maju ke depan untuk didoakan,
sesuatu yang luar biasa terjadi.
"Hamba
Tuhan itu mendoakan saya, dan saya hanya diam saja. Dalam hati saya
berkata, ‘kamu bisa apa sih. Kamu orang tua ngga ada apa-apanya.` Saya
doa, saya tunduk dan saya tahan. Beberapa menit dia mendoakan saya, saya
pandang dia, saya tunduk lagi dan saya tahan.
Tetapi
saya merasa ada arus panas yang masuk ditubuh saya. Saya bertanya, ‘ada
apa?` ternyata saat saya membuka mata saya lihat seluruh panitia sudah
mendoakan saya. Saya tahan dan memejamkan mata, saya pengen tahu seperti
apa sih ini. Saya merasa badan saya panas. Dan saya melihat banyak
kepala bersayap dibelakang panitia yang saat itu sedang memuji Tuhan.
Dan saya muntah darah disitu. Saya berguling-guling dan merasakan sakit
di ulu hati.
Saya
ingat dulu saya menelan sesuatu berupa botol, dan apakah saat itu dlam
alam roh itu keluar atau tidak, tapi yang keluar dari diri saya saat itu
adalah darah. Kemudian saya melihat suatu jubah putih, yang berbias
sinar keemasan, dan saya melihat sebuah tangan yang terulur dan menyuruh
saya naik. Dan saya tahu itu adalah Yesus."
Ternyata
apa yang dilakukan oleh Taruna di masa lalunya adalah sebuah perjanjian
darah dengan iblis tanpa pernah tahu akibatnya akan berdapak buruk bagi
hidupnya. Hari itu, Taruna menyadari bahwa Tuhanlah satu-satunya
pribadi yang sanggup menyelamatkannya.
Menyadari
hidupnya telah diselamatkan, Taruna pun mulai mengikuti beberapa kali
ibadah dan secara berangsur-angsur ia pun dibebaskan dari ilmu hitam
secara total. Kini Taruna bisa menapaki kehidupan yang lebih bahagia
bersama keluarganya.
"Tuhan
yang menyelamatkan hidup saya, sehingga saya bisa sampai saat ini ada,
semua itu karena anugrah dan belas kasihan dari Tuhan," demikian
Tarunadjaya mengakhiri kesaksiannya.
Mukjizat itu Nyata (Diana Panjaitan)
Kesaksian Rohani - Berawal dari rasa kesemutan biasa pada jari tangannya, Diana tidak menyadari bahwa itu adalah awal dari kehancuran hidupnya.
Suatu
pagi ketika Diana hendak bangun tidur, Diana merasakan sesak di
dadanya. Ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya dan ia sama sekali tidak
dapat berjalan. Dengan rasa cemas, orang tua Diana membawanya ke rumah
sakit. Setelah mendapat perawatan oleh dokter dari rumah sakit
tersebut, Diana diperbolehkan kembali ke rumah.
Diana
kembali ke rumah dengan kondisi yang sudah jauh berbeda. Diana tidak
lagi seperti dulu yang selalu ceria. Beberapa hari di rumah, kembali
Diana mengalami gejala yang sama dan untuk kedua kalinya ia dilarikan
kembali ke rumah sakit. Namun kali ini tubuh Diana sudah lumpuh total.
Hanya
dalam waktu satu bulan, hidup Diana seperti berada di ujung tanduk.
Dokter menemukan virus ganas yang mematikan bersarang di tubuhnya.
Menurut Dr. Freddy Sitorus, dokter yang menangani Diana, kalau hal ini
tidak cepat diatasi maka virus itu bisa menyerang syaraf pernafasan dan
bila hal itu sampai terjadi maka akan berakibat fatal bagi nyawa Diana.
"Syaraf
utama dalam tubuh saya sudah terkena virus dan semuanya sudah mati
rasa...," ujar Diana sambil menangis saat membagikan kisah hidupnya
kepada tim Solusi.
Seperti disayat, kenyataan pahit itu juga dirasakan oleh kedua orang tua Diana.
"Dunia seperti runtuh rasanya. Saya hanya berdoa kepada Tuhan agar anak saya disembuhkan," ujar Merry Sitorus, ibunda Diana.
Namun bayang-bayang kematian semakin dekat mengejar Diana. Hidupnya hanya bergantung pada suntikan demi suntikan.
"Saya
tidak siap untuk meninggal saat itu. Saya tidak bisa bernafas, dan saya
baru menyadari bahwa ternyata nafas itu mahal," ujar Diana sambil
menahan sakit.
Diana
juga sempat marah dan kecewa dengan Tuhan. Diana merasa bahwa segala
usaha dan harapannya yang telah ia gantungkan sepenuhnya kepada Tuhan
sepertinya sia-sia. Di saat Diana mengalami kekecewaan yang
berkepanjangang, Dr. Freddy Sitorus menyarankan Diana untuk mengikuti
sebuah kebaktian kebangunan rohani di Ancol yang dibawakan oleh Rev.
Benny Hinn. Menurutnya kalau manusia tidak dapat menyembuhkan, maka
Tuhan pasti bisa meyembuhkan.
Iman
Diana yakin bahwa hidupnya masih ada harapan. Namun di tengah lautan
manusia dan matahari yang membakar Ancol, tiba-tiba saja Diana kehabisan
oksigen. Ketika tim doa dari Benny Hinn mendatangi Diana dan berdoa
baginya, tanpa disadari lawatan Tuhan terjadi pada hidup Diana.
"Hati saya seperti plong dan ada hawa hangat di pinggang saya," ujar Diana.
Ketika
mereka menyuruh Diana berdiri, maka dengan perlahan Diana mulai
bangkit dan dapat berdiri. Diana naik ke atas panggung dan disambut oleh
Benny Hinn. Kemudian dengan rasa sukacita yang luar biasa, Diana mulai
bisa menggerakkan seluruh tubuhnya tanpa ada rasa sakit.
"Saya
tidak pernah menangis. Tetapi saat itu, tangis saya tumpah dan saya
kagum atas keajaiban dan kedahsyatan Tuhan terhadap anak saya. Sungguh
hebat Kau Tuhan," ujar M.Panjaitan, Ayah Diana, menutup kesaksian ini.
Nafas itu memang mahal, dan yang membuat nafas itu adalah sebuah Pribadi yang sungguh luar biasa. Jadi, hargailah Tuhan.
Masuk
ke dalam kegelapan di balik pintu gerbang besar itu, saya mencium bau
busuk yang menyengat hidung. Hawa panas menyerbu saya, disusul bau
daging terbakar yang membuat saya mual dan ingin muntah. Mendadak kepala
saya pusing karena mengetahui bau daging apa yang sedang terbakar
disana, bau daging manusia terpanggang.
Suatu
malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam
untukku, sambil memegang tangannya aku berkata, “Saya ingin mengatakan
sesuatu kepadamu.” Istriku lalu duduk di samping sambil menemaniku
menikmati makan malam dengan tenang. Dari raut wajah dan matanya kutahu
dia sedang memendam luka batin yang membara.
A Trip To Hell – Kesaksian Perjalanan Ke Neraka Philip Mantofa
1 Januari 2000, pukul 5.00 WIB. Saya
terbangun dan terkejut. Sekeliling saya gelap dan saya tidak dapat
melihat apapun. Saya tidak melihat adanya tanda-tanda kehidupan di
tempat itu, kecuali suara-suara teriakan kesakitan yang lamat-lamat
terdengar dari kejauhan.
“Bangun! Aku ingin menunjukkan sesuatu
yang sangat penting kepadamu.” Saya tahu bahwa itu suara Tuhan Yesus.
Saya bangun dan mengikuti-Nya. Ia membawa saya ke padang gurun. Sebuah
perjalanan yang panjang dengan suasana mencekam. Saya tidak merasakan
adanya tanda-tanda kehidupan di sana, kecuali kesunyian yang bercampur
kengerian yang tak terkatakan. Sunyi, sangat tandus dan tak ada angin
yang berhembus. Tenggorokan saya terasa kering karena panasnya melebihi
batas normal. Di sepanjang jalan saya melihat banyak makhluk-makhluk
aneh yang tak pernah saya lihat atau jumpai di bumi.
Saya tidak bisa berjalan cepat, tetapi
berjalan setapak demi setapak untuk bisa sampai ke sebuah gerbang yang
besar sekali sehingga ujungnya tak tampak. Saya tidak tahu pintu itu
terbuat dari apa. Pintu gerbang itu tinggi sekali dan menyeramkan. Saya
mendongakkan kepala untuk membaca sebuah papan nama. Kalau Tuhan tidak
membantu saya, mungkin saya tidak akan pernah bisa membacanya. Tulisan
itu tidak menyerupai tulisan dalam bahasa apapun di bumi, bunyinya :
Valley of Torture, Lembah Penyiksaan. Saya baru menyadari dimana saya
berada saat itu. Ternyata saya berada di neraka! Masih dalam keadaan
shock, saya mendengar suara Tuhan di sebelah saya berkata, “Buka pintu
itu!”
Saya menghela nafas panjang. Bagaimana
mungkin? Akhirnya saya menaati perintah-Nya dan dengan urapan kuasa
Tuhan saya menyorongkan tangan saya ke pintu gerbang itu. Cuma dengan
menyentuhnya pintu gerbang besar itu terbuka dan berbunyi
kkkkkkrriiiieeekkkkkkkkk. Deritnya memekakkan telinga.
Masuk
ke dalam kegelapan di balik pintu gerbang besar itu, saya mencium bau
busuk yang menyengat hidung. Hawa panas menyerbu saya, disusul bau
daging terbakar yang membuat saya mual dan ingin muntah. Mendadak kepala
saya pusing karena mengetahui bau daging apa yang sedang terbakar
disana, bau daging manusia terpanggang.
Apa yang saya lihat di balik pintu itu
sulit sekali saya lupakan. Bahkan setelah semuanya kembali berjalan
seperti biasa, ingatan akan tempat terkutuk itu sulit dihapus dari benak
saya. Di Lembah Penyiksaan itu saya melihat banyak orang-orang yang
mati di luar Tuhan Yesus ditempatkan. Sayangnya saya hanya mampu
menceritakan sebagian kecil dari semua yang saya lihat di sana.
Saya tahu ada banyak sekali manusia yang
tak terhitung jumlahnya di sana. Karena saya mendengar suara jeritan
mereka memenuhi udara, berbarengan dengan kertakan gigi. Jeritan mereka
itu memekakkan telinga, sehingga rasa ngeri membungkus sekujur tubuh
saya. Teriakan kesakitan mereka itu seolah-olah menghilangkan kekuatan
saya untuk tetap melihat semuanya sampai selesai.
Jika urapan-Nya tidak melindungi saya,
saya takkan bisa bertahan di sana. “Lord, get me out of here, please. .
.” pinta saya kepada Tuhan. Namun Tuhan tidak menanggapi saya.
Belum habis rasa panik saya, tiba-tiba
saya melihat kengerian yang lain. Tak jauh dari tempat saya berdiri,
saya melihat seorang wanita yang dikerumuni roh-roh jahat. Mereka
berbentuk aneh. Roh-roh jahat itu berjalan-jalan mengelilingi wanita
itu, sambil memegang senjata tajam yang tak pernah saya lihat di bumi.
Saya melihat wajah wanita itu diliputi
ketakutan yang sangat. Saya tahu bahwa ia belum lama mati karena
posisinya saat itu sangat dekat dengan gerbang maut di mana saya berada.
Saya tidak tahu apa yang membuat ia mati. Yang saya tahu, ia masih muda
dan wajahnya cantik. Ketakutan di wajahnya sangat jelas ketika ia
memohon belas kasihan mereka. Sayangnya, roh-roh jahat di sekelilingnya
tidak menggubris permintaannya. Malahan mereka tertawa-tawa senang
melihat ketakutan wanita itu. Mereka mengikat kedua tangan wanita itu ke
sebuah balok kayu dan terus mengancam dan mengintimidasinya.
“Ayo, berdusta! Ayo, berdusta!” Semakin
ia berteriak ketakutan, semakin keras iblis-iblis itu menyuruhnya
berdusta. Ternyata selama hidup di bumi wanita itu sering mendustai
suaminya. Ia tidak setia kepada janji dan ikatan pernikahannya. Wanita
itu berselingkuh dengan pria lain. Wanita itu tampak pasrah terhadap
perintah mereka.
“Ya, ya, aku akan berdusta! Aku akan berdusta!”
Saya kira wanita itu akan dibebaskan
karena telah memenuhi permintaan mereka. Ternyata dugaan saya keliru.
Salah satu roh jahat itu menyodok wajah perempuan itu dengan senjata
yang bentuknya aneh, kemudian menggaruk wajahnya dengan senjata yang
sama dengan kasar dan cepat. Kulit wajah wanita itu terkelupas bersamaan
dengan teriakan dan jeritan kesakitan wanita malang itu. Darah segar
menyembur dari luka di wajahnya, dari luka yang menganga. Teriakan
kesakitan terdengar sangat menyayat hati. Wajahnya tampak mengerikan
akibat tindakan brutal dari iblis ini. Di saat yang bersamaan saya
melihat roh jahat yang lain muncul dari balik kerumunan, menarik lidah
wanita ini hingga putus. Jeritan kesakitan melolong-lolong keluar dari
mulut tanpa lidah ini.
Saya terpana. Saya kehabisan kata-kata.
Jantung saya seperti berhenti sepersekian detik karena sangat kaget.
Saya tak menduga sama sekali bahwa wanita tersebut akan diperlakukan
sesadistis itu. Saya tidak tahan lagi! Saya berteriak dengan marah. Saya
bermaksud ingin menolongnya. Tetapi teriakan saya tenggelam dalam
kegelapan dan kengerian. Karena dikuasai rasa takut, suara saya
terdengar bagai rintihan. Tetapi mereka tidak dapat mendengar saya.
Belum pulih dari shock saya, tiba-tiba
saya melihat lidahnya kembali ada. Seolah-olah tidak terjadi apapun.
Cuma darah yang tersisa di wajahnya menandakan adanya perlakuan sadistis
atas wanita itu. Iblis yang sama kembali mengulangi kejadian tadi
dengan senjatanya. Kembali wanita itu menjerit-jerit kesakitan. Begitu
terus berulang-ulang sehingga kengerian menguasai saya sepenuhnya. Pada
akhirnya saya tahu bahwa kekekalan di sana berlaku atas tubuh, perasaan
dan pikiran manusia. Sekalipun semuanya terjadi di alam supranatural,
tetapi jeritan, ekspresi ketakutan, bentuk penyiksaan, kertakan gigi,
suara tawa iblis di neraka begitu nyata. Neraka itu lebih nyata dan
lebih kekal daripada apa yang ada di bumi ini.
“Ayo, kita bawa wanita ini ke depan, ke
lautan api itu!” Seketika itu juga saya diberi hikmat Tuhan tentang
perbedaan antara maut, kerajaan maut, dan lautan api. Orang yang mati
dalam dosanya akan mengalami maut, karena upah dosa ialah maut. Mereka
terpisah selama-lamanya dari hadirat Allah. Di sanalah setan-setan
mendirikan kerajaan maut. Mereka menyiksa manusia-manusia yang berada di
kerajaan maut. Lautan api adalah hukuman terakhir bagi iblis dan para
pengikutnya.
“Tiiiddddaaaakkkkkkkk! Aku tak mau ke
sana. Tidak mauuuuu!” Wanita tersebut memohon belas kasihan iblis-iblis
itu. Dengan tangan terikat ke belakang, wajah yang hancur dan bersimbah
darah, lidah yang putus, ia berlutut menangis memohon belas kasihan para
penyiksanya. Sungguh, itu merupakan pemandangan yang sangat sangat
sangat menyedihkan, membuat iba, dan sekaligus mengerikan. Bukan iba,
bukan belas kasihan, para roh jahat itu malahan bersorak-sorak
kegirangan melihat korban di depannya tak berdaya, penuh kemalangan.
“Aku tidak mau ke sana. Tidak mau. Siksa
aku saja di sini. Siksa aku saja semau kalian, jangan bawa aku ke
sana!” Wanita itu sudah demikian tersiksa, sedemikian menderita,
sedemikian kesakitan, masih memilih disiksa di situ saja, dibandingkan
dibawa ke lautan api. Saya bisa memahami ketakutannya. Lautan api itu
bukan dongeng. Tempat itu nyata. Tempat itu ada di depan matanya. Benar
kata Alkitab, “Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam penghukuman Allah yang
hidup!”
Tak jauh dari tempat wanita itu disiksa,
saya melihat seorang pria yang tinggal kerangka, karena dagingnya telah
meleleh, digotong kembali ke dekat pintu gerbang. Sebelumnya ia
ditempatkan di dekat lautan api. Saya yakin ia telah lama mati. Ia
dibawa ke dekat pintu gerbang itu entah untuk ke berapa kalinya, hanya
untuk mempermainkan perasaannya. Sementara itu roh-roh jahat yang
mengerumuninya berteriak-teriak memberi semangat, “Ayo, onani! Ayo,
masturbasi!”
Rupanya, semasa ia hidup ia sering
melakukan masturbasi. Ketika saya mendengar roh-roh jahat itu
berteriak-teriak, saya dikagetkan dengan munculnya ribuan ulat yang
menjalar keluar dari lubang kemaluannya yang sebenarnya tinggal daging
meleleh. Ulat-ulat itu keluar juga dari lubang mata, hidung, dan
telinganya. Ulat-ulat itu menjilati dagingnya yang meleleh. Saya tidak
pernah menjumpai ulat-ulat seperti itu di bumi. Pria itu sangat
kesakitan digerogoti dagingnya oleh ulat-ulat ganas itu.
Tak jauh dari tempat saya berdiri, saya
melihat seorang pria muda yang sepertinya baru meninggal. Saya tahu
kalau ia belum lama meninggal, karena orang-orang yang sudah lama
meninggal akan berada di tempat yang sangat jauh dari tempat saya
berdiri di dekat gerbang maut itu. Tak berapa lama kemudian beberapa roh
jahat datang membawa seorang pria yang lebih tua usianya. Dugaan saya,
semasa mereka hidup, mereka adalah ayah dan anak. Roh-roh jahat itu
memaksa kedua orang itu ke tengah lingkaran. Mereka memaksa pria yang
lebih muda untuk makan bagian belaksan dari kepala pria yang lebih tua.
Memakan otak! Mengerikan sekali. Sebelumnya para iblis itu merobek
belakang tempurung kepala pria yang lebih tua dengan tangan mereka.
Terdengar jerit kesakitan dari pria tua itu. Dan anak muda itu tak punya
pilihan lain selain memakan otak dan bagian belakang pria yang adalah
ayahnya.
Melihat kejadian yang menjijikkan dan
gila itu saya berteriak histeris. Saya marah sekali melihat kejadian
itu. Seumur hidup saya tidak pernah melihat dengan mata kepala sendiri
perbuatan kanibalisme seperti itu. Sontak saya menjadi pusing dan tubuh
saya gemetar. Sekujur tubuh saya jadi lemas karena ngeri. Kalau bukan
karena tangan-Nya yang memberi kekuatan, saya tidak akan kuat berdiri.
“Tuhhhaaaaaannnnn! Jangan diam saja!
Lakukan sesuatu!” kata saya iba. Tuhan tidak menjawab. Saya merasa putus
asa karena saya tak dapat menghalangi perbuatan iblis-iblis itu. “Lord,
do something, please. Tuhan, Engkau ‘kan penuh kuasa. Lakukan sesuatu.”
Tuhan tetap diam. Saya tidak dapat berbuat apa-apa lagi, selain
menaati-Nya. Saya memaksakan diri untuk melihat kembali potongan adegan
yang sangat sangat mengerikan itu. Anak muda itu masih sedang memakan
bagian belakang tempurung kepala ayahnya yang sangat-sangat kesakitan.
“Cukup, Tuhan! Hentikan! Saya tidak tahan!”
“Tidak! Engkau harus tetap di sini!
Tetaplah di dekat-Ku dan jangan bergerak,” kata-Nya dengan lembut.
“Jangan membenci,” sambung-Nya. Seketika itu juga saya mengerti bahwa
mereka berdua, ayah dan anak itu, saling membenci ketika mereka masih
ada di dunia. Mereka tidak mau saling memaafkan sampai kematian
menjemput mereka.
Ketika saya menoleh kembali ke arah ayah
dan anak itu, terdengar suara satu roh jahat, “Sekarang tiba
giliranmu!” Pria yang lebih tua dengan kesakitan yang sangat karena
bagian kepalanya tinggal seperempat, menuruti kata-kata iblis itu. Ia
sekarang berbalik memakan kepala anaknya sendiri. Wajah anak muda itu
tampak tegang menanti giliran disiksa. Ia berdiri mematung dengan
ekspresi wajah yang penuh kengerian. Ia menjerit-jerit kesakitan ketika
ayahnya sendiri memakan bagian belakang kepalanya. Ya, Tuhan!
“Tuhan, cukup!” Saya tidak tahan lagi
melihat semua kengerian itu. Saya menutup mata, tapi pemandangan itu tak
dapat pergi. Seketika itu juga saya merasakan Tuhan menarik roh saya,
sehingga bisa kembali ke tubuh saya. Saya terbangun dengan nafas
terengah-engah. “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil!” seru
saya setelah pengalaman dibawa Tuhan ke neraka yang sangat sangat sangat
mengerikan itu.
Berbulan-bulan setelah itu, trauma saya
melihat neraka tidak segera pulih. Ingatan tentang neraka itu tidak
dapat saya lupakan sama sekali. Ditambah lagi, sekujur tubuh saya pada
sakit. Tulang-tulang saya terasa nyeri, sehingga untuk menggerakkan
badan saja terasa sulit. Sekalipun berusaha melupakan perjalanan ke
lembah penyiksaan itu, namun saya tak dapat tidur tanpa memikirkannya.
Saya tahu, Tuhan membawa saya ke sana
untuk membongkar rahasia pekerjaan iblis yang tak disadari banyak orang.
Saya yakin “emergency call” ini datangnya dari Allah, bukan peringatan
dari manusia. Tuhan mengembalikan roh saya ke tubuh saya dalam keadaan
hidup, karena hanya orang hidup yang dapat berbicara kepada manusia yang
hidup. Orang mati, sekalipun telah melihat dan mengalami neraka, tidak
dapat berbicara kepada orang hidup.
Keseluruhan pesan ini bukan terletak dan
berfokus pada nerakanya. Yang jauh lebih penting, pesan ini mengenai
Tuhan Yesus, mengenai keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Karena hanya
Tuhan Yesus saja yang sanggup menyelamatkan manusia dari penghukuman
kekal di neraka. Kisah Para Rasul 4:12 mengatakan, “Dan keselamatan
tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Yesus Kristus, sebab
di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada
manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Kisah kesaksian Philip
Mantofa ini diambil dari buku “A Trip To Hell” ditulis oleh Philip
Mantofa bersama Sianne Ribkah.
Aku Gendong Engkau Hingga Ajal Tiba
Suatu
malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam
untukku, sambil memegang tangannya aku berkata, “Saya ingin mengatakan
sesuatu kepadamu.” Istriku lalu duduk di samping sambil menemaniku
menikmati makan malam dengan tenang. Dari raut wajah dan matanya kutahu
dia sedang memendam luka batin yang membara.
Tiba-tiba aku tidak tahu harus memulai
percakapan dari mana. Kata-kata rasanya berat keluar dari mulutku. Akan
tetapi aku harus membiarkan istriku mengetahui apa yang sedang
kupikirkan. Aku ingin sebuah perceraian di antara kami. Aku lalu
memberanikan diri untuk membicarakannya dengan tenang. Nampaknya dia
tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraanku, dia malah balik dan
bertanya kepadaku dengan tenang, tapi mengapa?
Aku menolak menjawabnya. Ini membuatnya sungguh marah kepadaku. Dia membuang choptiks
di tangannya dan mulai berteriak kepadaku, “Engkau bukan seorang
laki-laki sejati.” Malam itu kami tidak saling bertegur sapa. Dia terus
menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin mengetahui alasan di
balik keinginanku untuk bercerai. Tetapi aku dapat memberinya sebuah
jawaban yang memuaskan, “Dia telah menyebabkan kasih sayangku hilang
terhadap Jane (wanita simpananku). Aku tidak mencintainya lagi. Aku
hanya kasihan kepadanya.”
Dengan sebuah rasa bersalah yang dalam,
aku membuat sebuah pernyataan persetujuan untuk bercerai bahwa dia dapat
memiliki rumah kami, mobil dan 30% dari keuntungan perusahaan kami. Dia
sungguh marah, merobek kertas itu. Wanita yang telah menghabiskan 10
tahun hidupnya bersamaku kini telah menjadi orang asing di rumah kami,
khususnya di hatiku. Aku meminta maaf untuknya, untuk waktunya yang
telah terbuang selama 10 tahun bersamaku, untuk semua usaha dan energi
yang diberikan kepadaku, tapi aku tidak dapat menarik kembali apa yang
telah kukatakan kepada Jane bahwa aku sungguh mencintainya. Akhirnya dia
menangis dengan suara keras di hadapanku yang mana aku sendiri berharap
melihat terjadi padanya. Bagiku tangisannya tidak mempunyai makna
apa-apa. Keinginanku untuk bercerai di hati dan pikiranku telah bulat
dan aku harus melakukannya saat itu.
Hari berikutnya, ketika aku kembali ke
rumah sedikit larut kutemukan dia sedang menulis sesuatu di atas meja di
ruang tidur kami. Aku tidak makan malam tapi langsung pergi tidur
karena rasa ngantuk yang tak tertahankan akibat rasa capai sesudah
seharian bertemu dengan Jane, wanita idamanku saat itu. Ketika terbangun
kulihat dia masih duduk di samping meja itu sambil melanjutkan
tulisannya. Aku tidak menghiraukannya dan kembali meneruskan tidurku.
Pagi harinya dia menyerahkan
syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya sejak semalam kepadaku.
Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi hanya membutuhkan waktu
sebulan sebelum perceraian untuk saling memperlakukan sebagai
suami-istri dalam arti sebenarnya. Dia memintaku dalam sebulan itu kami
berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami-istri. Alasannya
sangat sederhana, “Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu
sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami.”
Aku menyetujui syarat-syarat yang dia
berikan. Akan tetapi dia juga meminta beberapa syarat tambahan sebagai
berikut, dalam rentang waktu sebulan itu, aku harus mengingat kembali
bagaimana pada permulaan pernikahan kami, aku harus menggendongnya
sambil mengenang kembali saat pesta pernikahan kami. Dia memintaku untuk
menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur sampai di muka pintu
depan setiap pagi. Aku pikir dia sudah gila. Akan tetapi, biarlah
kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah untuk
memenuhi permintaannya kepadaku demi meluluskan perceraian kami.
Aku menceritakan kepada Jane (wanita
simpananku) tentang syarat-syarat yang ditawarkan oleh istriku. Jane
tertawa terbahak-bahak mendengarnya dan berpikir bahwa itu adalah
sesuatu yang aneh dan tak bermakna. Terserah saja apa yang menjadi
tuntutannya tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian yang telah
kita rencanakan, demikian kata Jane.
Kami tak lagi berhubungan badan layaknya
suami-istri selama waktu-waktu itu. Sehingga sewaktu aku menggendongnya
keluar menuju pintu rumah kami pada hari pertama, kami tidak merasakan
apa-apa. Putra kami melihatnya dan bertepuk tangan dibelakang kami,
sambil berkata, “Wow… papa sedang menggendong mama”. Kata-kata putra
kami sungguh membuat luka di hatiku.
Dari tempat tidur sampai di pintu depan
aku menggendong dan membawanya sambil tangannya memeluk eratku. Dia
menutup mata sambil berkata pelan, “Jangan beritahukan perceraian ini
kepada putra kita.” Aku menurunkannya di depan pintu. Dia lalu pergi ke
depan rumah untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya.
Sedangkan aku mengendarai mobil sendirian ke kantorku.
Pada hari kedua, kami berdua
melakukannya dengan lebih mudah. Dia merapat melekat erat di dadaku. Aku
dapat mencium dan merasakan keharuman tubuh dan pakaianya. Aku
menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini dengan saksama untuk
waktu yang sudah agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda lagi
seperti dulu. Ada bintik-bintik kecil di raut wajahnya, rambutnya mulai
beruban! Perkawinan kami telah membuatnya seperti itu. Untuk beberapa
menit aku mencoba merenung tentang apa yang telah kuperbuat kepadanya
selama perkawinan kami.
Pada hari yang ke empat, ketika aku
menggendongnya, aku merasa sebuah perasaan kedekatan/keintiman yang
mulai kembali merebak di relung hatiku yang paling dalam. Inilah wanita
yang telah memberi dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada
hari keenam dan ketujuh, aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami
sebagai suami-istri mulai tumbuh kembali di hatiku. Aku tidak mau
mengatakan perasaan seperti ini kepada Jane (wanita yang akan kunikahi
setelah perceraian kami). Aku pikir ini akan lebih baik karena aku hanya
ingin memenuhi syarat yang dia minta agar nantinya aku bisa menikah
dengan wanita yang sekarang aku cintai, si Jane.
Aku memperhatikan ketika suatu pagi dia
sedang memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Dia mencoba beberapa
darinya tapi tidak menemukan satu pun yang cocok untuk tubuhnya. Dia
lalu sedikit mengeluh, semua pakaianku terasa terlalu besar untuk
tubuhku sekarang. Aku kemudian menyadari bahwa dia semakin kurus, dan
inilah alasannya mengapa aku dapat dengan mudah menggendongnya pada
hari-hari itu.
Tiba-tiba kenyataan itu sangat menusuk
dalam di hati dan perasaanku. Dia telah memendam banyak luka dan
kepahitan hidup di hatinya. Aku lalu mengulurkan tanganku dan menyentuh
kepalanya.
Tiba-tiba putra kami muncul pada saat it
dan berkata, “Papa, sekarang waktunya untuk menggendong dan membawa
mama.” Baginya, menggendong dan membawa ibunya keluar menjadi sesuatu
yang penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan memeluk
erat tubuhnya penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku ke arah yang
berlawanan karena takut situasi istri dan putraku akan mempengaruhi dan
mengubah keputusanku untuk bercerai pada saat-saat akhir memenuhi
syarat-syaratnya. Aku lalu mengangkatnya dengan kedua tanganku, berjalan
dari kamar tidur kami, melalui ruang santai sampai ke pintu depan.
Tangannya melingkar erat di leherku dengan lembut dan sangat romantis
layaknya suami-istri yang hidupnya penuh kedamaian dan harmonis satu
dengan yang lain. Aku pun memeluk erat tubuhnya; dan ini seperti moment
hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu.
Akan tetapi tubuhnya yang sekarang
ringan membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku menggendongnya
dengan kedua lenganku aku merasa sangat berat untuk menggerakkan
walaupun cuma selangkah ke depan. Putra kami telah pergi ke sekolah.
Aku memeluk eratnya sambil berkata, aku tidak pernah memperhatikan
selama ini bahwa hidup perkawinan kita telah kehilangan
keintiman/keakraban satu dengan yang lain. Aku mengendarai sendiri
kendaraan ke kantorku….melompat keluar dari mobilku tanpa mengunci
pintunya. Aku sangat takut jangan sampai ada sesuatu yang membuatku
mengubah pikiranku. Aku naik ke lantai atas. Jane membuka pintu dan aku
berkata kepadanya, “Maaf Jane, Aku tidak ingin menceraikan istriku”.
Jane memandangku penuh tanda tanya
bercampur keheranan, dan kemudian menyentuh dahiku dengan jarinya.
Apakah badanmu panas? Dia berkata. Aku mengelak dan mengeluarkan
tangannya dari dahiku. “Maaf Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup
perkawinanku terasa membosankan karena dia dan aku tidak memakna secara
detail setiap moment kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling
mencintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari bahwa sejak aku
menggendong dan membawanya setiap pagi, dan terutama kembali mengingat
kenangan hari pernikahan kami aku memutuskan untuk tetap akan
menggendongnya sampai hari kematian kami tak terpisahkan satu dari yang
lain.” Jane sangat kaget mendengar jawabanku. Dia menamparku dan
kemudian membanting pintu dengan keras dan mulai meraung-raung dalam
kesedihan bercampur kemarahan terhadapku. Aku tidak menghiraukannya. Aku
menuruni tangga dan mengendarai mobilku pergi menjauhinya. Aku singgah
di sebuah toko bunga di sepanjang jalan itu, aku memesan bunga untuk
istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa yang harus kutulis di
kartunya. Aku tersenyum dan menulis, “Aku akan menggendongmu setiap pagi
sampai kematian menjemput.”
Petang hari ketika aku tiba di rumah,
dengan bunga di tanganku, sebuah senyum indah di wajahku, aku berlari
kecil menaiki tangga rumahku, hanya untuk bertemu dengan istiriku dan
menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya untuk memulai sesuatu yang
baru dalam perkawinan kami, tapi apa yang kutemukan? Istriku telah
meninggal di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama selama 10
tahun pernikahan kami. Istriku telah berjuang melawan kanker ganas yang
telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa pengetahuanku karena
kesibukanku untuk menjalin hubungan asmara dengan Jane. Istriku tahu
bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat akibat kanker
ganas itu, dan ia ingin menyelamatkanku dari apapun pandangan negatif
yang mungkin lahir dari putra kami sebagai reaksi atas kebodohanku
sebagai seorang suami dan ayah, terutama rencana gila dan bodohku untuk
menceraikan wanita yang telah berkorban selama sepuluh tahun
mempertahankan pernikahan kami dan demi putra kami…
—-sekurang-kurangnnya, di mata putra
kami – aku adalah seorang ayah yang penuh kasih dan sayang….demikianlah
makna dibalik perjuangan istriku.
Sekecil apapun dari peristiwa atau hal
dalam hidup sangat mempengaruhi hubungan kita. Itu bukan tergantung pada
uang di bank, mobil atau kekayaan apapun namanya. Semuanya ini bisa
menciptakan peluang untuk menggapai kebahagiaan tapi sangat pasti bahwa
mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan itu dari diri mereka sendiri.
Suami-istrilah yang harus saling memberi demi kebahagiaan itu.
Karena itu, selalu dan selamanya jadilah
teman bagi pasanganmu dan buatlah hal-hal yang kecil untuknya yang
dapat membangun dan memperkuat hubungan dan keakraban di dalam hidup
perkawinanmu. Milikilah sebuah perkawinan yang bahagia. Kamu pasti bisa
mendapatkannya, kawan!
Jika engkau mau membagi cerita ini
kepada sahabat kenalanmu, maka satu hal yang pasti bahwa Tuhan sedang
menggunakanmu untuk menyelamatkan perkawinan orang lain, terutama
mereka yang sekarang mengalami masalah dalam pernikahan mereka.
Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabat yang menikah maupun yang berencana untuk menikah,


Tidak ada komentar:
Posting Komentar