1.
Tukang Parkir
Suatu ketika Delima bersama sang ayah
berjalan-jalan disebuah mall, pada waktu memasuki bassemen hendak memarkirkan
motor mereka, delima diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh tukang
parkirnya. Ia melihat dengan santai si tukang parkir menunjukkan tempat dimana
ia harus memarkirkan mobil atau motor yang ada disitu tanpa mengkhawatirkan apa
yang ada didalam mobil itu, terawat atau tidak, mobil ini masih kredit atau
sudah lunas, dan lain sebagainya. Si tukang parkir tak menghiraukan apapun
kondisi mobil itu karena ia yakin bahwa mobil ataupun motor tersebut karena ia
yakin bahwa itu adalah tanggung jawab pemilik mobil dan pemilik mobil akan
melakukan yang terbaik untuk harta kesayangannya. Sering sekali didalam
kehidupan kita, kita terlalu mengkhawatirkan apa yang kita miliki sekarang, apa
yang kita mau makabn pagi ini, pakaian apa yang kita pakai pagi ini, bagaimana
keadaan si A, si B, si C dan lain-lain. Andai saja kita berpikir seperti yang
dilakukan oleh tukang parkir itu, bahwa kita hanya menjalankan tugas kita
seperti apa adanya dengan sebaik-baiknya dan menganggap bahwa mobil atau motor
atau apapun yang kita punyai sudah terurus seperti pak parkir meyakini bahwa
pemilik mobil akan merawat mobilnya, maka kitapun harus yakin juga, bahwa Tuhan
yang menjadi pemilik segala yang ada dibumi ini akan merawat apa yang menjadi
bagian kita sesuai dengan tanggung jawab kita. Haleluya J
2. Kaca Jendela
Disuatu daerah tinggallah sepasang suami
istri yang baru saja menikah, mereka baru saja menempati rumah kontrakan
mereka. Hari berganti hari mereka lalui disana, sang istri diam-diam juga
memperhatikan jemuran milik tetangga mereka. Akhirnya iapun tak tahan untuk
menceritakannya kepada suaminya. “pah, coba deh liat jemuran punya tetangga
kita, mereka pake apa sih tiap hari aku perhatiin baju mereka kok coklat semua,
dekil, itu dicuci gak sih ?”. hari demi hari berlalu, sang isteri masih
mempertanyakan hal yang sama pada suaminya tentang jemuran tetangga mereka
sampai suatu pagi, ketika sang isteri bangun ia terkejut dan merasa heran melihat
jemuran milik tetangga mereka.” Pah, coba liat tuh, tetangga kita pakai pemutih
jenis apa ya ? baju-baju yang ada dijemuran mereka yang kemarin pada cokelat
semua, sekarang udah bersih pah”. Sang suami dengan senyum dan santai menjawab
ocehan isterinya. “ tadi pagi,-pagi sekali sewaktu mamah masih tidur, saya
mengambil air dan kain lap, lalu mengelap kaca rumah kita, makanya baju
tetangga kitapun keliatan bersih”.
Sering sekali kita sebagai orang percaya
berlaku seperti si isteri dalam tindakan kita, tanpa pikir panjang dan
mengkoreksi lebih dahulu serta menyalahkan orang lain dimana sebetulnya kita
belum tau apa yang menjadi kelemahan kita. TYM J
3. Sepatu baru
Willy dan ayahnya baru saja pulang dari toko
sepatu. Willy sudah menginginkan sepatu hampir 1 tahun, dan itu baru terwujud
baru saja. Sesampainya dirumah willy langsung menunjukannya kepada sang ibu
dengan bangganya. Ia tampak bahagia sekali memiliki sepatu itu. Pagi-pagi
sewaktu berangkat ke sekolah ia melakukannya dengan penuh senyum bahagia. Mulai
dari bangun pagi, sarapan, sampai kepada pemasangan sepatu tersebut, semuanya
dilakukan dengan penuh sukacita. Seperti halnya yang dilakukan Willy, apa
respon kita dalam setiap aspek hidup kita terhadap berkat-berkat yang kita
terima ? haruskah kita bersungut-sungut jika harus menunggu ?
4. Tragedi Sukhoi
Pada tanggal 9 Mei 2012 yang lalu terjadi
suatu hal yang sangat menyedihkan bagi keluarga pesawat Sukhoi yang jatuh di
area Gunung salak, Jawa barat. Setiap orang, jika ditinggalkan selamanya oleh
orang yang sangat kita sayangi dan meenjadi teman, sahabat, ataupun keluarga
yang dekat dengan kita, pasti kita juga akan mengalami yang namanya kedukaan.
Apalagi yang dialami oleh korban pesawat Sukhoi ialah sesuatu yang amat sangat
tragis, kepergian orang terkasih yang sangat tidak diharapkan. Perpisahan
dengan manusia yang kita sayangi memang menyedihkan, namun berbeda dengan
perpisahan manusia dengan Yesus pada saat Ia hendak naik kesurga. Perpisahan
dengan Yesus pada waktu itu, ialah perpisahan yang membawa sukacita besar bagi
seluruh manusia yang percaya kepadaNya.
5. Duri
Duri adalah sesuatu yang jika dilihat kasat
mata ialah sesuatu benda yang kecil, tak berpengaruh besar bagi kehidupan.
Namun, jika duri tersebut sampai masuk menembus kulit kita, maka itu akan
menjadi sakit, dan apabila tidak dikeluarkan, maka akan menimbulkan infeksi
atau peradangan pada kaki tersebut. Begitu halnya dengan masalah-masalah kecil
yang kita sepelekan masuk kedalam hidup dan tidak kita selesaikan sesegera
mungkin, cepat atau lambat masalah itu akan segera meradang.
6. Tetesan air
Suatu ketika ada sebuah batu besar yang
sangat kuat dan kokoh. Sejauh ini tidak ada yang bisa mengalahkan atau
menghancurkan kekuatannya. Ia begitu membanggakan kekuatan dan kekuatan yang ia
miliki. Suatu ketika datanglah sebuah besi mengajaknya bertanding, namun pada
akhirnya si batu tetap tak terkalahkan, malahan si besi yang peot. Lalu melihat
itu panaslah si api, ia berusaha membakar batu dengan panas yang ia miliki,
namun kemengan berpihak pada si batu. Batu tersebut menjadi semakin membanggakan
dirinya sebab belum ada yang berhasil mengalahkannya. Kemudian datanglah
tetesan air mendatangi si batu, lalu semakin tertawalah si batu melihat apa
yang dilakukan air, batu menganggap bahwa air tidak memiliki kekuatan apapun
untuk menglahkannya sebab air begitu lemah dibandingkan si api dan si
besi. Si air tetap tekun mengerjakan apa
yang ia lakukan dengan meneteskan dirinya diatas batu. Berhari-hari,
berminggu-minggu telah berlalu, meskipun belum ada hasil untuk apa yang ia
lakukan ia tetap tekun meneteskan air tersebut. Akhirnya setelah berbulan-bulan
hingga bertahun-tahun berlalu si batu tidak dapat berkata apa-apa lagi untuk
menyombongkan kehebatannya, karena si air telah berhasil mengikis batu tersebut
sedikit demi sedikit sehingga terbentuk lubang besar ditengah batu tersebut.
7. Bunga Mawar
Eriel anugrahni sangat menyukai bunga mawar,
terkhususnya yang berwarna putih, ia menganggap bahwa bunga mawar putih
melambangkan cinta kasih yang tulus dan indah. Namun, untuk mendapatkan bunga
yang indah itu tidak semudah yang dibayangkan oleh kita. Pada saat ia
mengambilnya, ia mengalami kesulitan-kesulitan ketika hendak memegang batang
bunga yang penuh duri. Dari ilustrasi ini kita belajar bahwa apa yang baik dan
indah dipandang mata ternyata ada perjuangan untuk mendapatkannya, dan
perjuangan ini tidak dapat kita abaikan,
karena jika diabaikan maka kita tidak akan pernah bisa untuk meraihnya.
8. Pentingnya pemimpin
Pada saat saya duduk di bangku SD, kelas kami
memiliki seorang guru kelas yang begitu cerewet, ia juga yang mengajar seluruh
mata pelajaran, dan bagi kami kehadirannya sungguh tak diinginkan hingga suatu
ketika kami mendengar bahwa guru kami terserang penyakit demam berdarah dan
tidak dapat mengajar kami selama berminggu-minggu. Pada waktu itu tersadar akan
apa yang kami lakukan pada guru kami itu. Kehadirannya sungguh amat penting
bagi kami, tanpa jasanya kelas kamipun terbengkalai. Oleh karena itu, belajar
dari pengalaman tadi, kita belajar untuk senantiasa menghargai orang-orang yang
menjadi pemimpin kita, dimanapun kita berada. Sebab tanpa kehadirannya, semua
akan terbengkalai. Haleluya J
9. Hadiah undian
Christien baru saja pulang kerumahnya pada
jam 5 sore, sedangkan ia pulang sekolah sudah dari jam 1 siang. Ibunya yang
jengkel karna tak ada kabar dari christien kalau ia pulang terlambat langsung
memarahi christien tanpa mendengarkan apa yang menjadi masalahnya. Christien
yang sebenarnya terlambat karena mengantar temannya ke rumah sakit dan hpnya
tertinggal dirumah hanya bisa terdiam dan jengkel pada ibunya. Rasa kesalnya
berubah menjadi senang saat ia baru saja mendapatkan telepon dari perusahaan
yang mengabarkan bahwa ia mendapatkan sebuah sepeda ipad karena menjadi orang
pertama yang berhasil mengikuti kuis ditabloit. Rasa senang yang ia miliki saat
ia mendapatkan berita gembira (ada sebab akibat), namun saat seseorang mengalami sukacita bersama
Yesus akan jauh berbeda dari orang yang senang. Karena orang yang bersukacita
dalam Tuhan, ia tidak ditentukan oleh situasi.
10. Tidak terpengaruh
Suatu ketika mita dan limah pergi ke pasar
senen untuk memberi buku dan melihat-lihat majalah. Sang penjual melayani
mereka dengan buruk dan wajah yang cemberut. Melihat itu Mita pun jengkel,
namun yang mengherankan Limah tidak jengkel malahan bersikap ramah dan lebih
sopan kepada yang menjual buku. Mitapun heran dan bertanya pada Mita kenapa ia
malah bersikap sopan, sedangkan si penjual bersikap buruk pada mereka. Limah dengan
santai menjawab “mengapa saya harus terpengaruh dan mengizinkan dia menentukan
tindakanku ?, kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita mengizinkan orang
lain mempengaruhi hidup kita. Padahal kita sendiri yang bertanggung jawab atas
diri kita sendiri !”.
11. Mandi
Ir. Dhony Pranata adalah seorang yang kaya
dan memiliki kekuasaan yang tertinggi dikantornya. Ia memilki kamar yang ber
AC, saat berangkat ke Kantor mobilnyapun ber AC serta sesampainya di kantor,
kantornyapun ber AC, ia amat meenjagai pola hidupnya agar tetap sehat. Yang
menjadi pertanyaan, apakah tubuh Ir. Dhony Pranata kotor dan perlu mandi ?
padahal ia tidak mengeluarkan keringat. Jawabannya, ia akan mandi dan merasa
bahwa tubuhnya kotor, hal ini seperti halnya manusia berdosa. Sekalipun kita
sudah melakukan yang terbaik dalam hidup ini, kita akan tetap merasa berdosa
dan butuh disucikan secara terus-menerus dalam hidup ini. J
12. Bermain menjatuhkan diri
Ketika kita bermain menjatuhkan diri kepada teman, kita
dituntut untuk memilki kepercayaan kepada teman kita tersebut bahwa ia akan
menangkap kita tepat waktu. Ketika kita melakukannya dan berhasil, kita sudah
menaruh percaya padanya. Apa lagi Tuhan Yesus, kita harus mempercayainya
melebihi apa yang kita lakukan pada sesama kita.
13. Lubang paku
Endas adalah seorang anak yang usil dan suka berbohong
pada orang lain. Sang ayah bingung akan kelakuan anaknya yang semakin susah
dikendalikan. Lalu suatu ketika, ia memanggil anaknya dan menyerahkan pada
anaknya sebauh palu dan sejumlah paku. Sang ayah berpesan pada endas untuk
membawa palu dn paku ini kemanapun ia pergi dan saat ia melakukan kesalahan dan
kebohongan harus memakukan satu paku ke kayu yang ada di sepanjang jalan
kampung mereka. Endas menerima pemberian ayahnya dengan senang dan melakukannya
dengan senang hati. Setiap ia melakukan kesalahan ia memakukannya pada kayu
yaang ada, hingga suatu ketika saat ia hendak pulang ke rumahnya ia kaget
melihat begitu banyak pelanggaran yang ia lakukan. Ia mendatangi ayahnya dengan
menyesal dan ingin mencabut paku itu, ia merasa berdosa dan bersalah pada
banyak orang yang dibohonginya. Lalu melihat keinginan anaknya sang ayah lalu
mengajaknya untuk mencabut pakunya. Sekalipun paku itu sudah dicabut, namun
akan meninggalkan lobang-lobang yang dalam. Begitu juga saat kita melakukan
kesalahan pada orang lain, sengaja atau tidak, itu akan menimbulkan bekas
dihati orang tersebut. Hati-hati pada mulutmu karena itu bisa menjadi paku yang
mencap dihati orang, meskipun kamu telah minta maaf namun bekas lukanya akan terus
ada.
14. Kekuatan sendiri
Ada orang tua yang
memiliki 3 orang anak yang kembar. Masing-masing dari anak tersebut memiliki
kekuatan yang berbeda-beda. Yaitu kekuatan air, api dan udara. Suatu ketika
sang ayah memberikan satu tugas khusus untuk ketiga anaknya. Untuk
menyelesaikan tugas ini mereka menggunakan kekuatan mereka masing-masing. Satu
persatu menunjukkan kekuatan mereka dan menganggap kekuatannyalah yang paling
hebat. Mulai saat itu mereka saling memandang negatif satu dengan yang lainnya.
Mereka beradu kekuatan dan saling melukai, kemudian mereka sibuk dengan tugas
mereka sendiri dan melupakan tugas yang diberikan oleh ayahnya yang harus
mereka kerjakan secara bersama-sama. Mereka melupakan bahwa mereka bersaudara,
bahwa mereka berasal dari orang tua yang sama, mereka lupa akan tgasnya karena
berpikir bahwa mereka sendirilah yang paling hebat. Dari ilustrasi tersebut
kita belajar untuk tidak menonjolkan diri dan menggap diri paling hebat, karena
jika terjad bukan penyelesaian masalah yang didapat, namun masalah yang
bertambah. Kita harus waspada karena
kita bisa saja terjebak pada pemikiran yang sama, bahwa bisa saja kita
menganggap bahwa saya atau kelompok saya lebih baik dari yang lain.
15. Es batu
Usia
yang sudah lanjut membuat sebagian besar orang mengundurkan diri dari panggung
dunia. Tetapi bagi “Young at Heart” tidaklah demikian. Mereka adalah kelompok
vokal yang beranggotakan lanjut usia, di panti jompo Massachusetts dengan
rentang usia 73-90an tahun. Didirikan pada tahun 1982, choir ini dipimpin oleh
Bob Cilman yang mempunyai kesabaran luar biasa dalam mendampingi kelompok ini
berlatih menyanyi. Usia tua membuat mereka harus belajar lirik teks lagu dengan
menggunakan kaca pembesar, karena mata yang sudah plus. Mereka juga berusaha
keras dan menghafal lirik, karena daya ingat yang sudah menurun. Dan, kerja
keras mereka tidaklah sia-sia. Mereka mulai diundang tampil di depan publik
pada tahun 1983. Dan dalam kurun waktu
1997-2004
Umur
itu seperti batu es, dipakai atau tidak, akan tetap mencair. Begitu juga dengan
umur kita. Digunakan atau tidak, umur kita akan terus bertambah. Oleh karena
itu, siapapun diri kita jadilah seseorang yang memiliki kepribadian yang
berkualitas, selalu mengucap syukur dan berusaha melakukan yang terbaik. J
J
J
16. Air
Suatu
ketika Bimo dan ayahnya sedang memancing dipinggir sungai. Ayah bimo berkata
pada bimo bahwa semua makhluk hidup tidak dapat hidup tanpa air. Ternyata pada
waktu ayah bimo mengatakan demikian ada seekor ikan kecil yang mendengarnya.
Ikan kecil ini lalu penasaran dan ingin mencari air yang dimaksudkan, ia
bertanya pada ikan-ikan yang lain merekapun tak tau dimana air itu, ia begitu
sibuk mondar mandir bertanya-tanya menanyakan yang manakah air itu. Kemudian ia
meluncur dan mencari sesepuh dari ikan itu lalu bertanya dimanakah air itu sang
sesepuh lalu tersenyum dan berkata “, Tak
usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak
menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita semua akan mati.”
Kadangkala kita sama seperti ikan kecil tadi, kita mencari kesana kemari
kehidupan dan kebahagiaan, padahal kita sedang menjalaninya, bahkan kebahagiaan
itu sedang kita nikmati tapi kita tidak menyadarinya.
17. Genggaman
tangan
Paul
Liao adalah salah satu 10 orang terkaya di Taiwan, ia memiliki sejumlah hotel,
real estate dan sederet bisnis yang besar. Yang menuai banyak pujian orang
adalah ia memperoleh semua harta kekayaannya benar-benar dari nol. Sehingga ini
membuat banyak orang antusias untuk mengetahui kunci kesuksesannya Paul.
Suatu
ketika Paul Liao diundang dalam suatu seminar di sebuah fakultas, seorang
mahasiswa mendekatinya dan menanyakan apa rahasia kesuksesannya Mendengar
permintaan itu, Paul Liao tersenyum sejenak, lalu ia pun meminta mahasiswa itu
menengadahkan tangannya. Mahasiswa itu tertegun sejenak, dan ia memperlihatkan
telapak tangannya. “Mari saya lihat garis tanganmu. Simaklah baik-baik apa
pendapatku,”kata si Paul. Paul pun
menunjuk garis garis di tangannya sambil berkata ”Lihatlah telapak tanganmu
ini, di sini ada beberapa garis utama yang menentukan nasib. Ada garis
Kehidupan, Ada garis Rezeki dan ada pula garis Jodoh. Sekarang coba kamu
menggenggamnya”. Sang mahasiswa kemudian melanjuti “Sekarang dimana garis
tanganmu?” Tanya si
Paul. “Di dalam telapak tangan yang saya genggam”, jawab mahasiswa itu penasaran. “Nah, apa artinya itu? Hal itu mengandung arti, bahwa apapun takdir dan keadaanmu kelak, semua itu ada dalam genggamanmu sendiri. Anda lihat bukan? bahwa semua garis tadi ada di tanganmu. Begitulah rahasia suksesku selama ini. Aku Berjuang dan Berusaha dengan BERBAGAI CARA untuk menentukan Nasibku sendiri, bukan melalui ketergantungan pada garis tangan” jawab si Paul. “Tapi coba lihat pula genggamanmu. Bukankah masih ada garis yang tak ikut tergenggam? Sisa garis itulah yang berada di luar kendalimu, karena di sanalah letak kekuatan dari TUHAN. kita tak akan mampu melakukan dan itulah bagian TUHAN”, “Kesuksesanmu tidak bakal terjadi
tanpa campur tangan TUHAN.”
Paul. “Di dalam telapak tangan yang saya genggam”, jawab mahasiswa itu penasaran. “Nah, apa artinya itu? Hal itu mengandung arti, bahwa apapun takdir dan keadaanmu kelak, semua itu ada dalam genggamanmu sendiri. Anda lihat bukan? bahwa semua garis tadi ada di tanganmu. Begitulah rahasia suksesku selama ini. Aku Berjuang dan Berusaha dengan BERBAGAI CARA untuk menentukan Nasibku sendiri, bukan melalui ketergantungan pada garis tangan” jawab si Paul. “Tapi coba lihat pula genggamanmu. Bukankah masih ada garis yang tak ikut tergenggam? Sisa garis itulah yang berada di luar kendalimu, karena di sanalah letak kekuatan dari TUHAN. kita tak akan mampu melakukan dan itulah bagian TUHAN”, “Kesuksesanmu tidak bakal terjadi
tanpa campur tangan TUHAN.”
18. Belajar dari Joanna Rowsell
Joanna
Rowsell adalah seorang gadis yang lahir di Inggeris pada Desember 1988. Jo lahir tanpa cacat fisik, dan bertumbuh
menjadi gadis sehat, hingga ketika usianya 11 tahun, semua rambut yang lebat di
kepalanya, rontok, bagaikan daun kering di musim gugur. Dalam sekejap hanya
beberapa helai rambut yang tersisa di kepalanya, bahkan alis matanya juga
ikutan rontok semua. Ibunya sibuk membawanya ke berbagai dokter specialist,
namun mereka gagal mencegah atau mengembalikan rambut lebatnya. Dokter
mengatakan bahwa ia terkena penyakit alopecia areata, suatu penyakit yang
jarang terjadi, yaitu penuan, kurangnya nutrisi atau kelainan pada metabolisme
tubuh. Dapat dimengerti, tentu Jo sangat terpuruk dengan kehilangan rambut
panjang yang biasa dikepang. Jo kehilangan rasa kepercayaan diri, dan ia
memilih lebih banyak belajar di
rumah dan membaca buku. Orang tuanya terus menerus mendorongnya, sering memperlihatan foto dari berbagai orang yang sengaja tampil botak, dan itu justru kelihatan lebih cantik dan menarik. Ini sedikit banyak membantu untuk menemukan kepercayaan dirinya untuk keluar rumah.
rumah dan membaca buku. Orang tuanya terus menerus mendorongnya, sering memperlihatan foto dari berbagai orang yang sengaja tampil botak, dan itu justru kelihatan lebih cantik dan menarik. Ini sedikit banyak membantu untuk menemukan kepercayaan dirinya untuk keluar rumah.
Dan
kecintaan untuk bersepeda ikut memacunya semangatnya untuk keluar rumah. Jo mulai berani keluar rumah dengan memakai
wig yang mirip dengan rambut aslinya, baik ke sekolah maupun ketika berlatih
bersepeda. Kecintaan dan ketekunnya dalam bersepeda kemudian membawa dirinya
dapat bergabung dengan pembalap pembalap kawakan di kotanya. Juara demi juara
ia dapatkan dalam berbagai perlombaan antar sekolah bahkan antar wilayah. Tidak
sia-sia kerja keras Jo, terbukti dengan kekuarangan fisik yang dimilik, di
usianya yang ke 23, Jo berhasil mengharumkan negaranya, bersama kedua rekannya
Dani King dan Laura Trott menyabet medali emas di Olimpiade London 2012,
mengalahkan tim Amerika yang selalu mendominasikan bidang sport ini. Ketika Jo
naik ke podium dan setelah menerima medali emasnya, di saat momen yang sedemikian
penting itu, Jo melepaskan wig yang dipakai, tanpa canggung atau malu. Jo
tampil botak di hadapan puluhan kamera televisi, yang disaksikan oleh puluhan
jutaan pemirsa dunia. Dengan senyuman ceriah Jo berkata,“ Jangan Pernah Membuat
Penampilanmu untuk Membunuh Impianmu dan Kebahagaianmu.” Banyak yang kagum atas
keberhasilan Jo menjadi juara, tetapi orang lebih kagum akan sikapnya yang
berani tampil seadanya. Mereka memuji bahwa Jo sama cantiknya baik dengan
rambut maupun tanpa rambut. Kalau seorang Joanna Rowsell bisa melakukannya,
KITAPUN BISA.
19. Semangkok Bakso
Siang itu ada seorang pemuda yang tampak
kelelahan. Dia telah berjalan sepanjang hari dan tak tahu arah yang hendak ia
tuju. Perutnya sudah protes. Dia sangat kelaparan sedangkan uang yang ada di
sakunya hanya tinggal seribu rupiah. Tampak dari kejauhan, ia melihat gerobak
bakso yang penjualnya sedang melayani banyak pembeli. Pemuda itu mendekat namun
enggan memesan. Pemuda itu hanya bisa memandanginya
sambil menahan rasa lapar. “Kau ingin makan bakso anak muda?”. “Oh, tidak pak.
Saya tidak mempunyai cukup uang untuk membelinya.” “Aku tak menyuruhmu untuk
memesan, aku bertanya apakah kau ingin makan bakso?” Penjual itu pun memberinya
semangkuk bakso tanpa meminta uang karena ia tahu bahwa pemuda itu tak memiliki
uang.“Kau hendak kemana?” “Tak tahu. Aku
tak tahu arah dan tujuan hidupku.” “Seorang penjelajah hutan memerlukan sebuah
peta agar ia tak tersesat. Begitu juga dengan dirimu. Kau memerlukan peta
kehidupan.” “Terima kasih buat semangkuk bakso yang kau berikan. Kini aku tahu
apa yang harus aku lakukan.” Sering kali
kita berjalan tanpa membawa sebuah peta. Kita pun tak tahu kemana arah yang
akan kita tuju. Tidak heran jika banyak di antara kita yang tersesat sehingga
jatuh ke dalam dosa.
20. Burung Gagak dan sebuah Kendi
Pada suatu musim yang sangat kering, saat itu hampir
semua binatang mengalami kesulitan untuk mendapatkan air untuk diminum.
Demikianlah juga dialami oleh burung-burung, sekali pun mereka dapat terbang
ternyata sangat sulit mendapatkan sedikit air untuk diminum. Ada seekor burung
gagak yang menemukan sebuah kendi yang berisi sedikit air di dalamnya. Tetapi ternyata kendi tersebut merupakan
sebuah kendi yang bentuknya agak tinggi dan dengan leher kendi sempit.
Bagaimana pun juga burung gagak tersebut berusaha untuk mencoba meminum air
yang berada dalam kendi, namun dia tetap tidak dapat mencapainya. Burung gagak
tersebut hampir merasa putus asa dan merasa akan meninggal karena kehausan. Maka
kemudian muncul sebuah ide dalam benak burung gagak tersebut. Burung itu dengan
tekun mulai mengambil batu-batu kerikil kecil yang ada di samping kendi,
kemudian menjatuhkannya ke dalam kendi satu persatu. Setiap kali burung gagak
itu memasukkan kerikil ke dalam kendi, permukaan air dalam kendi pun
berangsur-angsur naik dan bertambah tinggi hingga akhirnya air tersebut dapat
di capai oleh sang burung Gagak, dan ia pun selamat dari kehausan. Bukan dimana
Anda mulai yang penting, tetapi jika Anda sudah memulai, itu yang penting. Joe Sabath mengatakan “Anda
tidak perlu menjadi hebat untuk memulai, tetapi Anda harus mulai untuk menjadi
hebat.”
21. Si Pandai dan si Tekun
Si
Pandai selalu menjadi juara di sekolah, namun si Tekun tidak terlalu pandai
namun dia selalu mengerjakan segala sesuatu dengan baik. Saat mereka sudah lulus sekolah, si Pandai
mempunyai prinsip bahwa “kesuksesan akan datang sendiri kepadaku karena aku
pandai.” Sudah bertahun tahun dia diam di rumah, namun kepandaian yang dia
miliki tidaklah berguna. Ia tidak berubah menjadi lebih baik, melainkan masih
tetap sama seperti bertahun tahun sebelumnya. Berbeda
halnya dengan si Tekun. Ia tidak pandai, melainkan dia sangat tekun dan rajin
dalam melakukan segala sesuatu. Dia tekun mempelajari hal hal yang dirasa
sangat sulit baginya. Dia selalu mencoba untuk memperbaiki apa yang masih
dirasa kurang dalam pekerjaannya setiap harinya. Beberapa tahun kemudian si
tekun ini menjadi orang yang sangat sukses. Ketekunan kita menentukan bagaimana kita
kedepannya.
22.
Kura-kura dan burung Gagak
Alkisah hiduplah seekor kura-kura yang sombong serta banyak
bicara dan burung gagak yang baik hati. Suatu ketika sang kura-kura tersesat
sampai kehutn yang ia tidak tau itu dimana. Pada waktu itu ia melihat burung
gagak dan meminta pertolongan pada gagak dengan cara yang angkuh. Sang gagak
yang baik hatipun lalu mau meolongnya dan mengantarnya pulang. Sebelum dibawa
terbang oleh gagak, sang kura-kura terlebih dahulu dinasehati untuk tidak
berbicara pada saat terbang , dan ia menyetujuinya. Mereka pun terbang dengan
kaya dikaki gagak dan kur-kura berpegangan dengan mulutnya. sesampainya
diketinggian, si kura-kura lupa pada nasehat burung gagak dan mulai berbicara,
pada waktu ia berbicara pengangannyapun terlepas, ia jatuh dan akhirnya mati. sama
halnya dengan kita, kita harus dapat mengendalikan mulut dan perkataan kita,
karena jika perkataan kita tidak tepat, kita akan tekena batunya.
23.
Meja
Meja dapat berdiri kokoh dan dapat digunakan jika kakinya ada
empat. Apabila salah satu kaki meja patah atau hilang, meja tersebut akan rusak
dan tidak dapat digunakan lagi. Oleh karena itu, belajar dari ilustrasi ini
kita dapat mengetahui bahwa ketika kita dalam sebuah tim kerja kita harus
menjalin kerja sama yang baik satu dengan yang lainnya. Karena jika kita
berdiri sendiri menyelesaikannya kita tidak akan bisa, sama halnya seperti meja
jika hanya memakai satu kaki.
24.
Charger
Laptop
Ketika
kita membeli sebuah laptop, kita akan diberikan juga sebuah charger yang
berfungsi sebagai pengisi daya agar laptop tersebut bisa digunakan. Karena jika
Chargernya hilang atau rusak Laptopnya pun tidak akan berfungsi apa-apa. Begitu
juga halnya dengan iman kita kepada Yesus. Tidak hanya cukup kita mengaku
menerima Yesus dan mengijinkan Yesus tinggal didalam hati kita tanpa bersekutu
dengan Dia dan membaca Firmannya, berdoa dan bersaksi bagi Dia. Karena tanpa
itu semua iman kita sama seperti laptop tanpa Charger.
25.
Cincin
Seorang raja meminta
tukang emasnya sudah tua renta untuk menuliskan sesuatu di dalam
cincinnya. Raja berpesan, “Tuliskanlah sesuatu bisa kamu simpulkan dari
seluruh pengalaman dan perjalanan hidupmu,
agar itu pun bisa menjadi pelajaran untuk hidup saya”. Berbulan-bulan si
tukang emas tua itu membuat cincinnya, tetapi lebih sulit menuliskan
apa penting di cincin emas kecil itu. akhirnya setelah berdoa, si
tukang emas itu pun menyerahkan cincinnya pada sang raja. Dan dengan tersenyum,
sang raja membaca tulisan kecil di cincin itu. Bunyinya, “THIS TOO, WILL PASS”
artinya dan yang inipun akan berlalu.
Awalnya sang raja tidak
terlalu paham dengan apa tertulis di sana. Tetapi, suatu ketika, ketika
menghadapi persoalan kerajaan pelik, akhirnya ia membaca tulisan di
cincin itu dan ia pun menjadi lebih tenang, “Dan inipun akan berlalu.” Dan sewaktu
ia sedang ber-senang-senang, ia pun tak sengaja membaca tulisan di cincin itu, sejak
itu ia menjadi pribadi yang rendah hati. Ketika kita dalam masalah besar atau sedang
dalam kondisi gembira, ingatlah kalimat itu. Apa yang kita hadapi sekarang,
baik, atau buruk, cobalah untuk menikmatinya.
26. Garam dan Telaga
Suatu
ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah
seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya
gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang
yang tak bahagia.
Tanpa
membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang
bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam
garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya
garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba, minum ini, dan
katakan bagaimana rasanya ...", ujar Pak tua itu. "Pahit. Pahit sekali",
jawab sang tamu, sambil meludah ke samping.
Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. "Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah." Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?". "Segar", sahut tamunya. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi. "Tidak", jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. "Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.
Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu." Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat.
"Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan." Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa. (Anonim)
Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. "Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah." Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?". "Segar", sahut tamunya. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi. "Tidak", jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. "Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.
Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu." Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat.
"Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan." Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa. (Anonim)
27. Kasih Tak Terbatas
Seorang
pemuda hanya tertunduk lesu, memandang tiang gantungan yang menanti di
hadapannya. Andaikan ia tahu akan berakhir begini, tentu tidak akan
sekarang ... sudah terlambat. Seorang petugas mengikatnya dengan tali
dan mempersiapkannya untuk digantung. Sambil menuju tiang gantungan,
terlintas di pikirannya, ibunya yang juga satu-satunya keluarganya yang
tinggal, sedang menangisinya. Kini hanya tinggal menunggu lonceng. Ya,
tinggal menunggu sedentang lonceng dan ia akan meninggalkan dunia fana
ini untuk selama-lamanya. Peraturannya saat itu, hukuman gantung
dilaksanakan setelah lonceng besar berbunyi. Ia sudah pasrah dan
menunggu ajalnya.
Saat itu pukul 11 siang hari. Ditunggunya satu jam ... dua jam ... lonceng tidak juga berbunyi hingga pukul 2 siang. "Akh, berarti kematianku sudah sangat dekat?" pikir si pemuda. Tapi lonceng tidak juga berdentang hingga pukul 5 sore. Lonceng itu memang bergerak sejak siang, namun ternyata bukan bunyi yang dikeluarkannya, melainkan tetesan darah !!! Di tengah-tengah lonceng besar tersebut, ternyata ada seorang wanita tua yang menjepit bola di dalam lonceng hingga tidak terdengar bunyinya. Saat lonceng tersebut dipukul, wanita ini menjepitkan dirinya di dalam lonceng besar itu. Wanita tua itu tak lain adalah ibu sang pemuda yang akan dihukum!!! Akhirnya, pemuda tersebut dibebaskan dari hukumannya karena lonceng tersebut tidak juga berbunyi, sesuai dengan peraturan yang ada. Begitu besarnya cinta Ibu itu terhadap anaknya, hingga dia rela mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menyelamatkan anak yang dikasihinya. Ibu itu melambangkan Tuhan kita, Yesus Kristus yang telah rela membayar harga yang seharusnya menjadi tanggungan kita, dengan mati di kayu salib, agar kita diselamatkan. Seharusnya, kitalah yang sepatutnya digantung, kitalah yang sepatutnya disalib! Namun cinta Tuhan amat besar bagi kita, Cintanya tiada batasnya bagi kita anak-anak Nya.
Yohanes 3:16. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal? Yohanes 4:9. "Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.
Roma 8:39. "Atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Kasih anak sepanjang penggalah ... Kasih ibu sepanjang abad ... Kasih Tuhan sepanjang masa.
Saat itu pukul 11 siang hari. Ditunggunya satu jam ... dua jam ... lonceng tidak juga berbunyi hingga pukul 2 siang. "Akh, berarti kematianku sudah sangat dekat?" pikir si pemuda. Tapi lonceng tidak juga berdentang hingga pukul 5 sore. Lonceng itu memang bergerak sejak siang, namun ternyata bukan bunyi yang dikeluarkannya, melainkan tetesan darah !!! Di tengah-tengah lonceng besar tersebut, ternyata ada seorang wanita tua yang menjepit bola di dalam lonceng hingga tidak terdengar bunyinya. Saat lonceng tersebut dipukul, wanita ini menjepitkan dirinya di dalam lonceng besar itu. Wanita tua itu tak lain adalah ibu sang pemuda yang akan dihukum!!! Akhirnya, pemuda tersebut dibebaskan dari hukumannya karena lonceng tersebut tidak juga berbunyi, sesuai dengan peraturan yang ada. Begitu besarnya cinta Ibu itu terhadap anaknya, hingga dia rela mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menyelamatkan anak yang dikasihinya. Ibu itu melambangkan Tuhan kita, Yesus Kristus yang telah rela membayar harga yang seharusnya menjadi tanggungan kita, dengan mati di kayu salib, agar kita diselamatkan. Seharusnya, kitalah yang sepatutnya digantung, kitalah yang sepatutnya disalib! Namun cinta Tuhan amat besar bagi kita, Cintanya tiada batasnya bagi kita anak-anak Nya.
Yohanes 3:16. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal? Yohanes 4:9. "Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.
Roma 8:39. "Atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Kasih anak sepanjang penggalah ... Kasih ibu sepanjang abad ... Kasih Tuhan sepanjang masa.
28. Buah Delima Yang Manis
Walaupun bijinya sangat manis, tapi mereka terpisah dalam ruang kecil dibatasi kulit tipis kuning yang sangat pahit rasanya. Jika
Anda mencoba menggigit buah delima, Anda akan merasakan pahitnya. Namun
bila dimakan satu persatu bijinya, memang sangat enak. Ini persis
dengan kehidupan. Anda tidak dapat mengalami keseluruh kehidupan satu
hari sekaligus Anda tidak dapat sembuh dari kehilangan orang yang anda
sayangi dalam satu malam. Kehilangan adalah suatu proses ... hanya
sambil belajar mengalami hidup Anda lagi, sehari demi sehari ... maka
Anda mengatasi kehilangan itu dan mulai membangun kehidupan baru.
Kenyataan sederhana bahwa Anda tidak dapat mengalami kehidupan Anda
dalam satu bongkahan. Tapi sehari demi sehari ... Ini berarti ketekunan
dan kesabaran untuk membangun jenis kehidupan yang Anda inginkan.
Jika Anda mengalami suatu masalah hari ini, janganlah berusaha untuk menyelesaikannya dalam satu gumpalan. Coba penyelesaian hari ini ... pada hari ini saja dan Anda sudah jauh lebih maju menuju pemecahan masalah Anda.
Jika Anda melihat ke depan kepada semua masalah Anda ... maka hidup bisa kelihatan besar dan luar biasa beratnya. Tapi Anda tidak usah harus menanggung masalah-masalah kehidupan itu semua. Anda cuma harus menanggung dan mengatasi masalah Anda dalam satu hari ini. Hidup sepanjang mil bisa menjadi kesengsaraan namun hidup setiap inci adalah suatu yang mudah !! Anda tidak perlu memecahkan masalah kehidupan Anda ... yang Anda perlukan adalah menghadapi dan mengatasi masalah hari ini. (Anonim)
Jika Anda mengalami suatu masalah hari ini, janganlah berusaha untuk menyelesaikannya dalam satu gumpalan. Coba penyelesaian hari ini ... pada hari ini saja dan Anda sudah jauh lebih maju menuju pemecahan masalah Anda.
Jika Anda melihat ke depan kepada semua masalah Anda ... maka hidup bisa kelihatan besar dan luar biasa beratnya. Tapi Anda tidak usah harus menanggung masalah-masalah kehidupan itu semua. Anda cuma harus menanggung dan mengatasi masalah Anda dalam satu hari ini. Hidup sepanjang mil bisa menjadi kesengsaraan namun hidup setiap inci adalah suatu yang mudah !! Anda tidak perlu memecahkan masalah kehidupan Anda ... yang Anda perlukan adalah menghadapi dan mengatasi masalah hari ini. (Anonim)
29. Bermimpi
Ada
seorang gadis kecil berdiri di pinggir keramaian selagi ayahnya
memberikan suatu kesaksian tentang apa yang telah diperbuat Tuhan Yesus
dalam hidupnya. Dia menyaksikan bagaimana Tuhan telah menyelamatkan dia
dan menarik dia dari gaya hidupnya sebagai seorang pemabuk. Pada hari
itu ada seorang sinis yang berdiri di antara kerumunan tersebut yang
tidak tahan lagi mendengar segala omong kosong tentang agama tersebut. Dia berteriak, "Kenapa anda tidak duduk dan diam saja, orang tua. Anda hanyalah bermimpi."
Tak beberapa lama, orang skeptik ini merasa ada tarikan di lengan jaketnya. Dia menoleh ke bawah dan ternyata itu adalah gadis kecil ini. Anak itu menatapnya lekat-lekat dan berkata, "Tuan, itu adalah ayah saya yang anda bicarakan. Anda mengatakan ayah saya seorang pemimpi? Biar saya ceritakan kepada ada tentang ayah saya. "Ayah saya dulu seorang pemabuk dan malam-malam pulang ke rumah, dan memukuli ibu saya. Ibu menangis sepanjang malam. Dan Tuan, kami tidak memiliki pakaian-pakaian bagus untuk dipakai karena ayah saya membelanjakan seluruh uangnya untuk whiski. Kadang-kadang saya bahkan tidak memiliki sepatu untuk dikenakan ke sekolah. Tapi lihatlah sepatu dan baju ini! Ayah saya mempunyai pekerjaan yang baik sekarang!".
Lalu sambil menunjuk ke suatu arah, dia mengatakan, "Apakah anda melihat seorang wanita yang sedang tersenyum di sana? Itu adalah ibu saya. Dia tidak menangis sepanjang malam lagi sekarang. Sekarang dia menyanyi." Kemudian suatu pukulan yang hebat. Anak itu berkata, "Yesus telah merubah ayah saya. Yesus telah merubah rumah kami. Tuan, jika ayah saya sedang bermimpi, tolong jangan bangunkan dia!"
Tak beberapa lama, orang skeptik ini merasa ada tarikan di lengan jaketnya. Dia menoleh ke bawah dan ternyata itu adalah gadis kecil ini. Anak itu menatapnya lekat-lekat dan berkata, "Tuan, itu adalah ayah saya yang anda bicarakan. Anda mengatakan ayah saya seorang pemimpi? Biar saya ceritakan kepada ada tentang ayah saya. "Ayah saya dulu seorang pemabuk dan malam-malam pulang ke rumah, dan memukuli ibu saya. Ibu menangis sepanjang malam. Dan Tuan, kami tidak memiliki pakaian-pakaian bagus untuk dipakai karena ayah saya membelanjakan seluruh uangnya untuk whiski. Kadang-kadang saya bahkan tidak memiliki sepatu untuk dikenakan ke sekolah. Tapi lihatlah sepatu dan baju ini! Ayah saya mempunyai pekerjaan yang baik sekarang!".
Lalu sambil menunjuk ke suatu arah, dia mengatakan, "Apakah anda melihat seorang wanita yang sedang tersenyum di sana? Itu adalah ibu saya. Dia tidak menangis sepanjang malam lagi sekarang. Sekarang dia menyanyi." Kemudian suatu pukulan yang hebat. Anak itu berkata, "Yesus telah merubah ayah saya. Yesus telah merubah rumah kami. Tuan, jika ayah saya sedang bermimpi, tolong jangan bangunkan dia!"
30. Di Belakang Layar
Lima
orang bersaudara hidup dengan tentram di sebuah kaki gunung. Orang tua
mereka yang sudah meninggal, mewariskan 1.5 ha sawah dan ladang untuk
diolah. Sawah dan ladang itu terletak agak jauh dari rumah sehingga
mereka harus berangkat bekerja di sawah pada pagi hari. Atas kesepakatan
bersama, si sulung memerintahkan kepada si bungsu untuk tinggal di
rumah selama mereka bekerja di sawah. Si bungsu menyetujui dan menyambut
gembira keputusan tersebut. Setiap kali kakak-kakaknya pulang dari
bekerja, mereka pasti sudah menemukan rumah mereka yang sudah bersih,
rapi, dan terasa nyaman. Di atas meja makan sudah tersedia makanan dan
minuman untuk mereka semua, tempat tidur rapi semuanya, dan
pakaian-pakaian kotor sudah dicuci dan digosok semuanya.
Tetapi
rupanya salah seorang kakak berpikiran jelek dan curiga terhadap si
bungsu. "Si bungsu curang, dia tidak mau ikut ke sawah dan hanya mau
bermalas-malasan saja di rumah," pikir seorang kakaknya.
Setelah
berhasil mempengaruhi saudara-saudaranya yang lain, diputuskanlah bahwa
mereka semua harus berangkat ke sawah termasuk si bungsu. Ketika
kembali ke rumah mereka menemukan rumah yang berantakan, tidak terurus,
meja makan kosong. Mereka menyadari bahwa adik bungsu mereka yang selama
ini dianggap tidak berguna, kini baru terasa bahwa dia memiliki peranan
penting.
Jangan
pernah meremehkan orang-orang yang bekerja di belakang layar, yang
tidak begitu menonjol pekerjaannya. Lihatlah siapa saja di rumah anda
yang kelihatannya paling "tidak berguna", mungkin itu adalah orangtuamu
yang sudah tua, kakek, nenek yang kelihatannya hanya duduk-duduk
sepanjang hari, pembantu yang pekerjaannya kelihatan tidak terlalu
berharga, petugas kebersihan di gereja, pendoa yang tidak pernah
kelihatan tampil di depan atau siapapun yang pernah anda remehkan.
Belajar untuk melihat sisi baik kehadiran mereka dan bagaimana mereka
kalau tidak ada di rumah atau di gereja anda. Tanpa
sadar kita sering berkata dengan sombongnya, "Biarkan saja dia pergi,
biarkan dia keluar! Toh di rumah ini dia tidak berguna?" atau "Untuk apa
ditahan-tahan, masih banyak orang yang bisa mengerjakan apa yang dia
kerjakan." Suatu saat kita akan merasakan bahwa kita telah kehilangan
orang-orang terbaik yang pernah ada di rumah atau di gereja kita. Semua
kita telah diperlengkapi dengan keahliaan masing-masing yang berbeda
dengan maksud agar bisa saling bekerjasama, saling melengkapi dan saling
menolong. Walaupun ada sebagian orang yang tidak terlalu menonjol dalam
keahlian tertentu tapi belajarlah untuk menghargai manfaat dari
kehadiran mereka dan kemampuan yang dipercayakan kepada mereka. Doa: Ya
Tuhan aku bersyukur untuk orang-orang yang Tuhan tempatkan di
sekelilingku. Berilah aku hati yang bisa menghargai keberadaan mereka
dan tidak meremehkan meskipun kelihatannya apa yang mereka lakukan
bernilai kecil. Ajarilah aku untuk selalu dapat bekerjasama dengan orang
lain. Dalam nama Yesus aku memohon, Amin. (Anonim)
31. Sistem Poin
Seorang
pria meninggal dunia dan rohnya pergi ke Surga. Di gerbang Surga ia
disambut oleh Petrus. Petrus berkata, "Inilah syarat untuk masuk ke
Surga. Engkau memerlukan 100 poin untuk masuk. Caranya, sebutkan semua
perbuatan baik yang telah engkau lakukan semasa hidupmu. Tiap-tiap
perbuatan baik akan diberi poin sesuai dengan derajat kebaikannya. Kalau
engkau sudah mencapai 100 poin maka engkau berhak menjadi penghuni
Surga." "Baiklah," kata orang tersebut, "saya telah menikah selama 50
tahun dan tidak pernah berselingkuh maupun berbohong terhadap istriku
walau di dalam pikiran sekalipun." "Itu bagus," kata Petrus, "nilainya 3
poin!" "Tiga poin?!" kata orang itu dengan sedikit kecewa. "Baiklah,
saya selalu hadir dalam setiap kebaktian Minggu selama hidup saya. Saya
selalu membayar perpuluhan dan mendukung penuh pelayanan pekerjaan Tuhan
di gereja."
"Luar
biasa!" kata Petrus. "Hal ini sudah pasti menghasilkan 1 poin." "Satu
poin?!?" keluhnya; sekarang ia benar-benar merasa cemas. "Saya menjadi
pelopor dapur umum untuk orang-orang miskin di kota saya dan saya
bekerja di tempat penampungan untuk para veteran perang yang tidak punya
rumah." "Hebat! Itu berarti engkau memiliki tambahan 2 poin lagi," kata
Petrus."Dua poin!?" orang itu berteriak. "Dengan sistem penilaian
seperti ini, satu-satunya cara untuk dapat masuk ke Surga hanyalah
dengan kasih anugerah Tuhan!" Petrus mengangguk dan berkata, "Tepat, 100 poin untuk engkau! Masuklah anakku."
32. Manusia Kaleng
Ini
cerita tentang seorang pria yang bekerja di pabrik besar. Saya sudah
melihat dia selama beberapa tahun tapi tidak pernah menaruh perhatian
padanya. Saya menganggap orang ini sedikit aneh. Sedikit pendek. Sedikit
kotor. Selalu memakai topi tua bewarna merah. Dan selalu membawa sebuah
kantong sampah. Dia berjalan keliling di pabrik tua yang besar tersebut
pada waktu istirahat dan makan siangnya.Hari demi hari, bulan demi bulan selama bertahun-tahun. Hari panas, hari dingin. Selama bertahun-tahun saya mengikutinya ketika dia berjalan ke mobil pickup tua-nya pada hari yang sangat dingin dengan salju turun. Dia ada di sana dengan banyak kantong sampah penuh berisi kaleng-kaleng aluminium. Dia melemparnya ke belakang mobilnya dan masuk ke dalam. Kemudian saya mengambil mobil saya dan kemudian kami balapan sampai ke pintu keluar dari tempat parkir yang luas dan kosong ini.
Hari ini, saya sedang memperbaiki sebuah mesin rusak di pabrik ini dan manusia kaleng ini datang dengan kantongnya memunguti kaleng-kaleng. Manajer saya berdiri di sana karena mesin yang sedang saya perbaiki sudah "macet" selama beberapa jam, dia khawatir produksi akan terganggu. Saya sudah selesai memperbaiki ketika berdiri dan mendengar manajer saya bertanya kepada manusia kaleng tersebut apa yang diperbuatnya terhadap kaleng-kaleng tersebut. Saya tidak pernah memikirkan pertanyaan tersebut karena saya selalu berasumsi bahwa manusia kaleng ini akan menghancurkan kaleng-kaleng tersebut di tempat daur ulang. Manusia kaleng tersebut menjawab, "Saya memberikan kaleng-kaleng ini ke tetangga saya, dia menderita epilepsi dan tidak dapat memperoleh pekerjaan." Saya terkejut, "Maksudnya kamu mengumpulkan semua kaleng-kaleng itu selama bertahun-tahun untuk memberikannya kepada tetanggamu???"
"Ini tidak membantu banyak," dia berkata, "tapi saya memberikan semua kepadanya. Dia tidak dapat bekerja. Dia memiliki banyak kekurangan." Tepat di sana, di pabrik itu, saya menemukan diri saya seperti ditampar di hadapan Yesus. Manusia kaleng ini mengenakan kaos dan sebuah topi tua merah dan memegang sebuat kantong sampah penuh dengan kaleng-kaleng aluminium, dan dia menyatakan Kristus!
Sungguh satu momen yang paling merendahkan hati saya seumur hidup.
"Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7).
33 Kupu-Kupu Yang Tak Bisa Terbang
Seorang
pria sedang memperhatikan kupu-kupu yang berusaha keluar dari kepompongnya
melalui sebuah lubang kecil.
Kupu-kupu
itu nampak berusaha keras untuk keluar, namun tak berhasil. Kemudian si pria
itu berusaha menolong dengan merobek kepompong itu, sehingga si kupu-kupu dapat
keluar dengan mudah.
Sayangnya
si kupu-kupu memiliki tubuh yang tidak sempurna, tubuhnya kecil lemah, sayapnya
juga tidak bisa berkembang sehingga si kupu-kupu tidak pernah bisa terbang
hanya berjalan dengan tubuhnya seumur hidup.
Niat
baik si pria menolong si kupu-kupu ternyata sudah menghilangkan proses
perjuangan si kupu-kupu untuk keluar dari kepompongnya. Padahal proses
perjuangan itu yg seharusnya dilewati agar tubuhnya menjadi kuat sayapnya berkembang
sempurna.
Manusia
pada umumnya selalu berusaha menghindari perjuangan dengan usaha keras untuk
mencapai sesuatu. Kebanyakan orang selalu ingin cara-cara mudah instant untuk
mencapai sesuatu.
Itu
sebabnya banyak org tidak kuat menghadapi kenyataan hidup yang semakin sulit
perjuangan berat. Mudah menyerah pasrah… Itulah ciri-ciri betapa lemah
rendahnya mentalitas manusia biasa-biasa.
Jadi
jika Anda hari ini menghadapi persoalan besar, masalah yang sulit, perjuangan
hidup yg berat, tantangan kerja yang berat… Hadapi berusahalah sekuat tenaga
untuk mengatasinya, karena semua itu akan membuat kita menjadi semakin kuat.
Roma
5:3-5 ~ Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan
kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan
ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan
pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam
hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
34 Kisah Bunga Putih
Ini adalah kisah
sebuah bunga putih… Ia tidak pernah menyadari bahwa sesungguhnya ia adalah
bunga yang terindah yang pernah tumbuh di antara tanah yang penuh dengan semak
duri..
Ia tumbuh dengan
indah di tengah semak-semak yang keheranan akan bentuk sang bunga putih yang
berbeda dengan yang lainnya. Para semak duri lalu memandangnya dengan sinis dan
tidak pernah memandang sang bunga putih dengan bersahabat, sehingga si bunga
putih pun merasa bahwa ialah yang paling buruk karena ia memiliki bentuk yang
paling berbeda di antara semak-semak duri tersebut.
Waktu pun
berlalu, sang bunga putih tak pernah merasa bahagia.. bahkan ia sering bertanya
kepada kupu-kupu yang senang bermain dengannya :” Mengapa aku harus tumbuh
berbeda dengan yang lainnya? Mengapa aku terlihat begitu buruk dibandingkan
yang lain”?
Kupu-kupu
menjawab :” Kau tidak buruk, bunga putih. Hal yang membuatmu merasa buruk
adalah karena dirimu terlihat berbeda dengan yang lainnya. Justru kau adalah
bunga yang terindah yang pernah kutemui,bunga putih.” Jawab sang kupu-kupu
kepada sang bunga putih.
Bunga putih pun
terkejut :”Apa maksudmu,kupu-kupu?”. Kupu-kupu lalu menjawab : “Tahukah dirimu,
bunga putih.. bunga sepertimu adalah bunga yang cantik dan terindah, karena di
tengah-tengah tanah yang penuh dengan semak duri kau tumbuh dengan anggunnya..
dan bahkan, bagiku kau adalah penolongku, karena ketika aku lapar, di
tengah-tengah tempat yang sepertinya tidak ada harapan untuk mencari madu dari
bunga, kau ada untuk menyediakan madu sehingga aku tidak kelaparan.. Bunga
putih, bunga sepertimu yang tumbuh diantara semak duri sesungguhnya adalah
bunga yang cantik dan terindah, karena kau menunjukkan bahwa masih ada harapan
di tengah tanah yang penuh semak duri”, kata sang kupu-kupu.
Bunga putih pun
sadar,dan pada akhirnya ia bersyukur atas keadaan dirinya.
Terkadang kita seperti bunga putih diatas. Kita seringkali kecewa dan merasa buruk atau tertekan karena berbeda dengan orang lain yang berada di lingkungan sekitar kita.
Terkadang kita seperti bunga putih diatas. Kita seringkali kecewa dan merasa buruk atau tertekan karena berbeda dengan orang lain yang berada di lingkungan sekitar kita.
Kita seringkali
tak menyadari bahwa ketika kita berbeda dengan yang lainnya,Tuhan memiliki
rencana yang besar di dalam hidup kita..yaitu untuk menjadikan hidup kita
menjadi hidup yang memberikan harapan bagi orang lain yang membutuhkan,dan
untuk menunjukkan bagi setiap orang, bahwa mimpi masih bisa terwujud di tengah
dinginnya dunia,dan harapan masih ada meskipun sepertinya segala sesuatunya
tidak dapat menjanjikan apa-apa…
Karena itu,
yakinlah di dalam hatimu.. mungkin pada awalnya dirimu merasa tertekan karena
berbeda dengan yang lainnya.. Namun, Tuhan tidak pernah melakukan kesalahan
dalam mengatur dan menempatkan dirimu..karena Ia tahu, perbedaan yang ada pada
dirimu adalah untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa harapan masih ada di dunia
yang dingin seperti batu.. Dan Ia memilihmu karena Ia mempunyai rencana yang
besar di dalam hidupmu,yang tak pernah terpikirkan dalam benakmu..namun sudah
dipersiapkan dengan luar biasa oleh Tuhan..
Karena itu,
percayalah..bahwa apapun yang terjadi di dalam hidupmu..semuanya akan
mendatangkan kebaikan dan harapan di dalam hidupmu dan juga hidup orang lain..
dan terlebih dari itu semua, percayalah bahwa apa yang Tuhan tetapkan di dalam
hidupmu..pasti pada akhirnya semua hal itu akan menjadi indah pada waktuNya..
35. Goresan Kehidupan
Suatu ketika, tersebutlah
seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah , sebuah
Jaguar yang mengkilap. Kini , sang pengusaha sedang menikmati perjalanannya
dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh , dipacunya kendaraan itu
mengelilingi jalanan tetangga sekitar. Di pinggir jalan , tampak beberapa anak
yang sedang bermain sambil melempar sesuatu.
Namun , karena berjalan
terlalu kencang , tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu. Tiba-tiba, dia
melihat sesuatu yang melintas dari arah mobil-mobil yang diparkir di jalan.
Tapi , bukan anak-anak itu yang tampak melintas. Aah. .. ternyata ada sebuah
batu yang menimpa Jaguar itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang
dilontarkan seseorang. Cittt ……. ditekannya rem mobil kuat-kuat.
Dengan geram ,
dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu dilemparkan. Jaguar yang
tergores , bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh
orang lain , begitu pikir sang pengusa ha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia
pun keluar mobil dengan tergesa-gesa.
Ditariknya seorang anak yang
paling dekat dan dipojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir. “Apa
yang telah kau lakukan ? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku ! Lihat
goresan itu “, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu mobil. “Kamu
tentu paham , mobil baru semacam ini akan butuh banyak ongkos di bengkel kalau
sampai tergores ,” ujarnya lagi dengan geram , tampak ingin memukul anak itu. Sang
anak tampak ketakutan dan berusaha meminta maaf. “Maaf Pak , maaf. Saya
benar-benar minta maaf. Sebab , saya tidak tahu lagi harus melakukan apa “.
Pada air mukanya tak tersembunyikan rasa ngerinya, dan tangannya bermohon
ampun. “Maaf Pak , saya melemparkan batu itu , karena tak ada seorang pun yang
mau berhenti….”
Dengan air mata yang mulai
berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah , di dekat
mobil-mobil parkir tadi. “Itu di sana ada kakakku. Dia tadi tergelincir , dan
terjatuh dari kursi rodanya.
Saya tak kuat mengangkatnya.
Dia terlalu berat. Badannya tak mampu saya papah, dan sekarang dia sedang
kesakitan…” Air matanya mengalir makin deras yang diusapnya berkali-kali dengan
punggung tangannya bergantian. Ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi.
Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu. “Maukah Bapak membantu
saya mengangkatnya ke kursi roda ? Tolonglah , kakakku terluka , tapi dia
terlalu berat untukku” . Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu
terdiam. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera ,
diangkatnya anak yang cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian diambilnya sapu
tangan mahal miliknya , untuk mengusap luka di lutut anak itu. Memar dan
tergores, sama seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya.
Setelah beberapa saat , kedua anak itu pun berterima kasih , dan mengatakan
bahwa mereka akan baik-baik saja. “Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas
perbuatan Bapak ” Keduanya berjalan beriringan , meninggalkan pengusaha yang
masih nanar menatap kepergian mereka.
Matanya terus mengikuti
langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu , melintasi sisi jalan menuju
rumah mereka. Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju
Jaguar miliknya. Disusurinya jalan itu dengan lambat , sambil merenungkan
kejadian yang baru saja dialaminya. Kerusakan yang terjadi pada mobil mahalnya
bisa jadi bukanlah hal sepele.
Namun , ia memilih untuk tak
menghapus goresan itu.Ia sengaja membiarkan goresan itu, agar tetap
mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata
terlihat: “Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat , karena , seseorang
akan melemparkan batu untuk menarik perhatian mu.”
Saudara, sama halnya dengan
kendaraan , hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan.
Di setiap sisinya , hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan
kenyataan. Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat , sehingga tak
pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar ?
Kadang , kita memang tak
punya waktu untuk mendengar, menyimak , dan menyadari setiap ujaran Nya. Kita
kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan , memacu hidup dengan penuh
nafsu , hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.
Saudara, kadang memang , ada
yang akan “melemparkan batu” buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak.
Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata Nya, atau
menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita ?
36. Kisah 3 Pohon
Alkisah, ada
tiga pohon di dalam hutan. Suatu hari, ketiganya saling menceritakan mengenai
harapan dan impian mereka..
Pohon pertama
berkata: “Kelak aku ingin menjadi peti harta karun. Aku akan diisi emas, perak
dan berbagai batu permata dan semua orang akan mengagumi keindahannya” .
Kemudian pohon
kedua berkata: “Suatu hari kelak aku akan menjadi sebuah kapal yang besar. Aku
akan mengangkut raja-raja dan berlayar ke ujung dunia. Aku akan menjadi kapal
yang kuat dan setiap orang merasa aman berada dekat denganku”.
Lalu giliran
pohon ketiga yang menyampaikan impiannya: “Aku ingin tumbuh menjadi pohon yang
tertinggi di hutan di puncak bukit. Orang-orang akan memandangku dan berpikir
betapa aku begitu dekat untuk menggapai surga dan TUHAN. Aku akan menjadi pohon
terbesar sepanjang masa dan orang-orang akan mengingatku” .
Setelah beberapa
tahun berdoa agar impian terkabul, sekelompok penebang pohon datang dan
menebang ketiga pohon itu…
Pohon pertama
dibawa ke tukang kayu. Ia sangat senang sebab ia tahu bahwa ia akan dibuat
menjadi peti harta karun. Tetapi, doanya tidak menjadi kenyataan karena tukang
kayu membuatnya menjadi kotak tempat menaruh makanan ternak. Ia hanya
diletakkan dikandang dan setiap hari diisi dengan jerami.
Pohon kedua
dibawa ke galangan kapal. Ia berpikir bahwa doanya menjadi kenyataan. Tetapi,
ia dipotong-potong dan dibuat menjadi sebuah perahu nelayan yang sangat kecil.
Impiannya menjadi kapal besar untuk mengangkut raja-raja telah berakhir.
Pohon ketiga
dipotong menjadi potongan-potongan kayu besar dan dibiarkan teronggok dalam
gelap.
Tahun demi tahun
berganti, dan ketiga pohon itu telah melupakan impiannya masing-masing.
Kemudian suatu
hari, sepasang suami istri tiba di kandang. Sang istri melahirkan dan
meletakkan bayinya di kotak tempat makanan ternak yang dibuat dari pohon
pertama. Orang-orang datang dan menyembah bayi itu. Akhirnya pohon pertama
sadar bahwa di dalamnya telah diletakkan harta terbesar sepanjang masa.
Bertahun-tahun
kemudian, sekelompok laki-laki naik ke atas perahu nelayan yang dibuat dari
pohon kedua. Di tengah danau, badai besar datang dan pohon kedua berfikir bahwa
ia tidak cukup kuat untuk melindungi orang-orang di dalamnya. Tetapi salah
seorang laki-laki itu berdiri dan berkata kepada badai: “Diam!!!” Tenanglah”.
Dan badai itupun berhenti. Ketika itu tahulah bahwa ia telah mengangkut Raja di
atas segala raja.
Akhirnya,
seseorang datang dan mengambil pohon ketiga. Ia dipikul sepanjang jalan sementara
orang-orang mengejek lelaki yang memikulnya. Laki-laki itu kemudian dipakukan
di kayu ini dan mati dipuncak bukit. Akhirnya pohon ketiga sadar bahwa ia
demikian dekat dengan TUHAN, karena YESUS-lah yang disalibkan padanya…
—————————————————————————————————————-
Ketika keadaan
tidak seperti yang engkau inginkan, ketahuilah bahwa Tuhan memiliki rencana
untukmu. Jika engkau percaya pada-Nya, Ia akan memberimu berkat-berkat besar.
Ketiga pohon mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi tidak dengan cara
yang seperti mereka bayangkan. Begitu juga dengan kita, kita tidak selalu tahu
apa rencana Tuhan bagi kita. Kita hanya tahu bahwa jalan-Nya bukanlah jalan
kita, tetapi jalan-Nya adalah yang terbaik bagi kita, selamanya
37. Kisah Si Ayam dan Si Babi
Alkisah, ada dua
binatang yang berteman akrab sejak kecil, yaitu si ayam dan si babi. Mereka
selalu berjalan berdua kemanapun mereka pergi. Pada suatu hari, ketika mereka
berjalan melewati hutan belantara yang jauh dari keramaian kota , mereka
menemukan seorang laki-laki yang hampir mati.
Si ayam berkata:
“Eh, bie! liat tuh! Kayaknya ada orang sedang berbaring didepan!”
Si babi : “Iya,
yam! Gue juga… liat. Kayaknya dia sedang sekarat. Yuk kita deketin.”
Mereka melihat
dari dekat, dan laki-laki itu dengan lemah berkata : “Tolong aku, aku lapar dan
tidak punya makanan”
Lalu si ayam
berkata kepada babi : “Eh, kasihan deh. Bie, yuk kita tolong dia.”
Sahut si babi :
“Tapi gimana yam ? Kita kan nggak bawa bekal apa-apa ?”
Si ayam berkata
: “Ya sudah, apa yang ada pada diri kita saja kita olah menjadi makanan,
setuju?”
Babi mengangguk
: “Baiklah, kalau itu bisa menyelamatkan nyawa orang itu, saya bersedia.”
Singkat cerita,
mereka masing-masing memberikan bagian diri mereka, mengolahnya menjadi makanan
dan memberikan kepada laki-laki tersebut. Ia sangat berterimakasih,
kesehatannya telah pulih dan ia melanjutkan perjalanannya. Si ayam dan si babi
pun melanjutkan perjalanannya berdua.
Si ayam berkata
: “Senang yach, rasanya, kita bisa menjadi berguna untuk orang lain….”
Si babi membalas
: “Iya sih, aku juga senang. tapi kamu jalannya jangan cepat-cepat yam, aku
tadi memberikan satu kakiku untuk menjadi makanannya, kamu sih enak, bisa
bertelur….”
Cerita diatas
menggambarkan 2 tipe dalam memberi, yaitu memberi dalam kelimpahan dan memberi
dalam kekurangan. Sifat ini dapat kita refleksikan dalam diri kita, yaitu
ketika kita memberikan persembahan dalam gereja, boleh ditanyakan dalam diri
kita sendiri: “Apakah saya merasa sudah memberikan yang terbaik untuk Tuhan?”
Biarlah hati nurani masing-masing yang menjawabnya.
Saya jadi ingat,
ketika Tuhan Yesus memperhatikan orang-orang yang memberi persembahan.
Orang-orang kaya memberi persembahan dari kelimpahannya, Tetapi seorang janda
miskin memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkahnya. (Lukas 21:4).
Orang yang memberikan dari kelimpahannya memberi sedikit bagian untuk Tuhan Dan
sisa bagian yang jauh lebih banyak untuk dirinya sendiri, sedangkan si janda
miskin memberikan seluruh bagiannya untuk Tuhan dan tidak ada bagian untuk
dirinya sendiri. Itulah sebuah kenyataan, bahwa setiap orang memiliki kasih
yang berbeda untuk Tuhan kita.
Kehendak Tuhan
adalah supaya kita mengasihiNya dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita.
Tuhan memang
tidak butuh harta kita. Ia adalah pemilik surga dan bumi. Jika Ia mau, Ia bisa
mengambil semua harta kita. Tuhan menginginkan hati kita, supaya kita berserah
kepadaNya. Namun hal ini tidak akan terjadi sepenuhnya sebelum hati kita masih
menyayangi harta duniawi. Alkitab berkata : “Dimana hartamu berada, disitu pula
hatimu berada” (Mat 6:21).
Dimana hartamu
berada, disitu pula hatimu berada.
38. Berjalan Dengan Keong
Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu
membawa keong jalan-jalan. Aku tak dapat jalan terlalu cepat, keong sudah berusaha
keras merangkak. Setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit.
Aku mendesak, menghardik,
memarahinya, keong memandangku dengan pandangan meminta-maaf, serasa berkata :
“Aku sudah berusaha dengan segenap tenaga!”
Aku menariknya, menyeret bahkan menendangnya,
keong terluka. Ia mengucurkan keringat, nafas tersengal-sengal, merangkak ke
depan. Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak seekor keong
berjalan-jalan.
“Ya Tuhan! Mengapa?” Langit sunyi
senyap. Biarkan saja keong merangkak di depan, aku kesal di belakang. Pelankan
langkah, tenangkan hati….
Oh? Tiba-tiba tercium aroma bunga,
ternyata ini adalah sebuah taman bunga.
Aku rasakan hembusan sepoi angin,
ternyata angin malam demikian lembut.
Ada lagi! Aku dengar suara kicau
burung, suara dengung cacing.
Aku lihat langit penuh bintang
cemerlang.
Oh? Mengapa dulu tidak merasakan
semua ini?
Barulah aku teringat, mungkin aku
telah salah menduga!
Ternyata Tuhan meminta keong
menuntunku jalan-jalan sehingga aku dapat mamahami dan merasakan keindahan taman
ini yang tak pernah kualami kalau aku berjalan sendiri dengan cepatnya. “He’s
here and with me for a reason”
Saat bertemu dengan orang yang
benar-benar kamu kasihi,
Haruslah berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu.
Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.
Haruslah berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu.
Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.
Saat bertemu teman yang dapat
dipercaya, rukunlah bersamanya.
Karena seumur hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan.
Karena seumur hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan.
Saat bertemu penolongmu,
Ingat untuk bersyukur kepadanya.Karena dialah yang mengubah hidupmu
Ingat untuk bersyukur kepadanya.Karena dialah yang mengubah hidupmu
Saat bertemu orang yang pernah kamu
cintai,
Ingatlah dengan tersenyum untuk berterima kasih.
Karena dialah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih.
Ingatlah dengan tersenyum untuk berterima kasih.
Karena dialah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih.
Saat bertemu orang yang pernah kamu
benci,
Sapalah dengan tersenyum. Karena dia membuatmu semakin teguh / kuat.
Sapalah dengan tersenyum. Karena dia membuatmu semakin teguh / kuat.
Saat bertemu orang yang pernah
mengkhianatimu,
Baik-baiklah berbincanglah dengannya.
Karena jika bukan karena dia, hari ini kamu tak memahami dunia.
Baik-baiklah berbincanglah dengannya.
Karena jika bukan karena dia, hari ini kamu tak memahami dunia.
Saat bertemu orang yang pernah
diam-diam kamu cintai,
Berkatilah dia.Karena saat kamu mencintainya, bukankah berharap dia bahagia?
Berkatilah dia.Karena saat kamu mencintainya, bukankah berharap dia bahagia?
Saat bertemu orang yang
tergesa-gesa meninggalkanmu,
Berterima-kasihlah bahwa dia pernah ada dalam hidupmu.
Karena dia adalah bagian dari nostalgiamu
Berterima-kasihlah bahwa dia pernah ada dalam hidupmu.
Karena dia adalah bagian dari nostalgiamu
Saat bertemu orang yang pernah
salah paham padamu,
Gunakan saat tersebut untuk menjelaskannya.
Karena kamu mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan.
Gunakan saat tersebut untuk menjelaskannya.
Karena kamu mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan.
Saat bertemu orang yang saat ini
menemanimu seumur hidup,
Berterima kasihlah sepenuhnya bahwa dia mencintaimu.
Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati.
Berterima kasihlah sepenuhnya bahwa dia mencintaimu.
Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati.
39. Hanya Sebuah Koin Penyok
Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dgn rasa
putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Saat menyusuri jalanan
sepi, kakinya terantuk sesuatu. Ia membungkuk dan menggerutu kecewa. “Uh, hanya
sebuah koin kuno yg sudah penyok.” Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank.
“Sebaiknya koin in dibawa ke kolektor uang kuno”,
kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor.
Beruntung sekali, koinnya dihargai 30 dollar.
Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko
perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga
30 dollar untuk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan
beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat
mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yang dipanggul
lelaki itu. Dia menawarkan lemari 100 dollar untuk menukar kayu itu. Setelah
setuju, dia meminjam gerobak untuk membawa pulang lemari itu.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru.
Seorang wanita melihat lemari yang indah itu dan menawarnya 200 dollar. Lelaki
itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun
setuju dan mengembalikan gerobaknya.
Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya.
Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Tiba-tiba
seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang
itu, lalu kabur.
Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati
suaminya seraya bertanya, “Apa yg terjadi? Engkau baik-baik saja kan? Apa yg
diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh..
bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Bila kita sadar kita tak pernah memiliki
apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Sebaliknya,
sepatutnya kita bersyukur atas segala karunia hidup yang telah Tuhan berikan
pada kita, karena ketika datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa.
40. Rencana Tuhan Indah Pada Waktunya
Ada seorang anak laki-laki
yang berambisi bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi jenderal Angkatan Darat.
Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat
membawa nya kemanapun ia mau. Untuk itu ia bersyukur kepada Tuhan, oleh karena
ia adalah seorang anak yang takut akan Tuhan dan ia selalu berdoa agar supaya
suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan. Sayang sekali, ketika
saatnya tiba baginya untuk bergabung dengan Angkatan Darat, ia ditolak oleh
karena memiliki telapak kaki rata. Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian
melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan
Tuhan yang tidak menjawab doanya. Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan
perasaan yang kalah, dan di atas segalanya, rasa amarah yang belum pernah
dialaminya sebelumnya. Amarah yang mulai ditujukannya terhadap Tuhan. Ia tahu
bahwa Tuhan ada, namun tidak mempercayaiNya lagi sebagai seorang sahabat,
tetapi sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi berdoa
atau melangkahkan kakinya ke dalam gereja. Ketika orang-orang seperti biasanya
berbicara tentang Tuhan yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan
menanyakan pertanyaan-pertanya an rumit yang akan membuat orang-orang percaya
itu kebingungan. Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan
menjadi dokter. Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian
menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor di dalam pembedahan
yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi
apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda ini. Sekarang, semua pasiennya
memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru.
Selama bertahun-tahun, ia
telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para orang
tua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri
mereka yang dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih
dapat mengasihi keluarganya. Para ayah yang hancur hati oleh karena tak
seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah
diberikan kesempatan baru.
Setelah ia menjadi lebih tua
maka ia melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik
bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan. Pada suatu hari ia
menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan. Di situ, masih penuh dengan
kebencian, pria itu bertanya kepada Tuhan mengapa doa-doanya tidak pernah
dijawab, dan Tuhan berkata, “Pandanglah ke langit, anakKu, dan lihatlah
impianmu menjadi kenyataan.”
Di sana, ia dapat melihat
dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa untuk bisa menjadi
seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit.
Di sana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata
bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil
untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi ketika ia berada di
kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam
peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini
hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangis dan terus menangis. Lalu
Tuhan berkata, “Sekarang lihatlah bagaimana rencanaKu telah terpenuhi sekalipun
engkau tidak setuju.” Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia
memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan berapa banyak jiwa yang telah
diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota
keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi
seorang ahli bedah.
Kemudian di antara para
pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian untuk
menjadi seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat
bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan
yang dilakukannya. Hari ini anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang
jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan
nyawanya.
Sampai di situ, Ia tahu
bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana
Tuhan telah memakainya sebagai alatNya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa,
dan memberikan masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit
itu.
41. Hikmah Kegagalan
Bacaan
: Bilangan 14:39-45; Kisah Para Rasul 2:41
“Lalu
turunlah orang Amalek dan orang Kanaan yang mendiami pegunungan itu dan
menyerang mereka; kemudian orang-orang itu mencerai-beraikan mereka sampai ke
Horma” (Bilangan 14:45).
Kegagalan
adalah peristiwa yang paling menakutkan. Tetapi justru dalam kegagalan Allah
dapat menghasilkan karya yang hebat dalam hidup Anda. Tahukah Anda bahwa
sebelum Thomas Edison menciptakan baterai yang bisa menyimpan tenaga listrik,
ia telah melalui 50 ribu kegagalan?! Dengan kata lain ia telah melakukan kurang
lebih 50 ribu eksperimen sebelum ia berhasil menciptakan baterai tersebut.
Albert Einstein juga disebut-sebut sebagai anak yang bodoh pada mulanya. Sama
halnya dengan Petrus yang pernah gagal karena menyangkali Gurunya, namun
setelah ia dipenuhi dengan Roh Kudus, sekali khotbah 3.000 jiwa bertobat (Kisah
Para Rasul 2:41). Begitu juga dengan tokoh-tokoh yang gagal lainnya.
Kalau
Anda merasa Anda adalah orang kalah dan gagal, Allah sanggup mengubahkan
semuanya itu untuk kemuliaannya. Saya ingin membagikan ada 3 berkat di dalam
kegagalan:
Pertama, kegagalan akan membawa Anda bergantung kepada Allah. Ya,
kegagalan adalah seperti menapaki setiap tangga menuju hubungan yang lebih
intim dengan Allah. Kegagalan akan menjadikan Anda menyadari akan kelemahan
Anda. Dan itu berarti Anda akan menggantungkan hidup Anda kepada Allah.
Kedua, kegagalan akan menjadikan Anda orang yang rendah hati.
Tanpa kegagalan, Anda akan memandang remeh kepada orang-orang yang gagal. Anda
akan merasa selalu di atas. Namun begitu kegagalan menerpa Anda, maka Anda akan
melihat diri Anda setara dengan orang-orang yang gagal. Anda akan melihat diri
Anda berada di bawah. Dan inilah saat Anda belajar mengenai kerendahan hati.
Persepsi Anda akan sekeliling Anda akan berubah sebab kegagalan itu.
Ketiga, kegagalan akan membuat Anda menghargai kasih karunia dan
pengampunan Allah. Kegagalan akan menyebabkan Anda berpaling dari dunia dan
menatap kepada Allah. Anda akan memohon pengampunan dan akan menghargai
pengampunan Allah. Pengampunan Allah memang gratis tetapi harganya setara
dengan pengorbanan Kristus di kayu salib. Orang-orang yang pernah gagal akan
melihat salib Kristus dalam pengertian yang baru.
Renungan:
Tidak
selamanya kegagalan selalu berkonotasi buruk. Apabila Anda mengizinkan Allah
bekerja dalam hidup Anda, maka kegagalan itu akan membawa Anda kepada dimensi
baru dalam hidup Anda. Jadi izinkanlah tangan Allah membentuk Anda di tengah
kegagalan Anda.
42. Memperoleh Berkat Dari Tuhan
Seandainya pada
suatu hari, anda harus hidup dalam kondisi yang lapar berat. Dan dihadapanmu
hanya tersedia tempat untuk memanggang ikan. Kemudian bertemu dengan mailakat
Tuhan. Dan malaikat ini tahu persis keadaan mu. Lalu ia menyodorkan 2 pilihan
kepada anda, yaitu :
Pertama, apakah
kamu mau ikan ? Jika mau, saat ini juga aku dapat langsung memberikan 10 ekor
ikan tanpa susah payah engkau menangkapnya.
Kedua, apakah
mau kutunjukan jalan-nya untuk mendapatkan ikan ? Jika mau, aku akan memberikan
kepadamu kail, umpan dan jala serta caranya untuk menangkap ikan. (
Karena anda sama sekali tidak tahu bagaimana memancing atau menangkap
ikan ).
Jawaban apa yang
akan anda jawab ?
Tentunya sebagai
orang normal, kita akan menjawab yang pertama. Ini jawaban yang manusiawi. Tapi
bagaimana jika kita memilih jawaban yang kedua ? jawaban yang kedua adalah
jawaban yang BIJAKSANA.
Ini adalah
perumpamaan yang sederhana. Jika kita memilih yang pertama, pada awalnya kita
tidak akan kekurangan pasokan makanan. Namun dalam hitungan beberapa hari, anda
harus menghadapi kenyataan, bahwa makanan mu pada akhirnya habis total.
Jika kita
memilih jawaban yang kedua, pada awalnya kita harus bersusah payah untuk
menangkap ikan. Anggaplah hasilnya tidak terlalu banyak. Tapi jika suatu saat
seluruh ikan sudah habis, kita bisa kembali menangkapnya. Karena kita sudah
tahu jalan-nya dan caranya.
Hanya orang yang
dekat dan intim dengan Tuhan yang mendapatkan kail dan caranya untuk menangkap
ikan. Ini tercermin didalam mazmur :
Ia telah
memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-kepada orang
Israel. Mazmur 103:7
Orang Israel
selalu melihat perbuatan Tuhan berupa mujijat. Sebut saja : 10 tulah, manna
dari surga, burung puyuh, tiang awan, tiang api, laut terbelah dua. Tapi apakah
mereka mengerti bagaimana itu bisa terjadi ? dan bagaimana caranya untuk
melihat mujijat ? mereka tidak pernah bertanya seperti itu kepada Tuhan.
Analogi ini
haruslah menjadi peringatan bagi kita. Seringkali kita ingin instant mendapat
mujijat, tapi tidak pernah mau memilih bagaimana caranya untuk mendapatkan
mujijat. Kita ingin ikan tapi tidak mau kail apalagi ditambah dengan susah
payah memancingnya.
Mari kita ubah
mentalitas kedagingan kita dengan mentalitas kerajaan surga. Dengan cara
meminta petunjukNya dan mengajarkan kita tentang jalan jalanNya.
Dan banyak suku
bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah
Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita
berjalan menempuhnya; Yesaya 2:3
43. Belajarlah dari Domba yang Bodoh!
Ada sepasang suami isteri, di dalam Tuhan boleh dikatakan lumayan,
mereka cukup bergairah bekerja untuk Tuhan. Tetapi tidak lama kemudian,
anak kesayangan mereka meninggal dunia. Kemudian, dengan penuh amarah
mereka berkata, “Mulai sekarang kami berdua tidak mau melayani Allah
lagi. Kami telah dengan setia melayaniNya, Dia bukan saja tidak
memberkati, malah membuat anak kami mati.” Demikianlah mereka kemudian
menempuh penghidupan sehari-hari dengan sesukanya sendiri, tidak lagi
seperti dulu bergairah melayani, tidak mau menuntut kemajuan rohani.
Demikianlah waktu berlalu sekitar 8 sampai 9 tahun.
Pada suatu hari, si suami sedang berjalan di suatu belantara, terlihatlah olehnya seorang penggembala domba yang akan menyeberangkan kawanan domba melewati sebuah anak sungai. Pada masa itu, umumnya di anak sungai di desa-desa tidak ada jembatan yang baik, hanya ada papan-papan yang melintang yang menghubungkan kedua tepian. Bagi manusia, jembatan “darurat” itu masih boleh, tetapi bagi hewan, dalam hal ini kawanan domba, sangatlah sulit; karena domba adalah hewan yang penakut lagi bodoh. Sebab itu meskipun gembala itu mencambuk dan mendorongnya, mereka tetap tidak berani menyeberang. Gembala itu kehabisan akal, akhirnya diangkatnya seekor anak domba kecil yang sangat disayangi oleh induk domba, digendongnya domba kecil itu dan ia menyeberangi jembatan itu. Demi dilihat induk domba itu bahwa anaknya yang disayangi dibawa ke seberang, segera ia memberanikan diri menempuh bahaya untuk mengikutinya, kemudian kawanan domba yang lainpun ikut menyeberang.
Begitu melihat kejadian ini, si suami segera berkata, “Cukuplah.” Sejak hari itu dia kembali dibangunkan. Di kemudian hari ia bersaksi, “Karena Allah tidak menghendaki aku tertinggal di seberang sungai ini, maka Dia telah membawa anakku menyeberang lebih dulu. Domba yang begitu bodoh saja mengetahui dan akhimya ikut menyeberang, mengapa aku masih saja berlambat-lambatan dan tidak mau segera menyeberang?”
(sumber: literatur Yasperin)
Pada suatu hari, si suami sedang berjalan di suatu belantara, terlihatlah olehnya seorang penggembala domba yang akan menyeberangkan kawanan domba melewati sebuah anak sungai. Pada masa itu, umumnya di anak sungai di desa-desa tidak ada jembatan yang baik, hanya ada papan-papan yang melintang yang menghubungkan kedua tepian. Bagi manusia, jembatan “darurat” itu masih boleh, tetapi bagi hewan, dalam hal ini kawanan domba, sangatlah sulit; karena domba adalah hewan yang penakut lagi bodoh. Sebab itu meskipun gembala itu mencambuk dan mendorongnya, mereka tetap tidak berani menyeberang. Gembala itu kehabisan akal, akhirnya diangkatnya seekor anak domba kecil yang sangat disayangi oleh induk domba, digendongnya domba kecil itu dan ia menyeberangi jembatan itu. Demi dilihat induk domba itu bahwa anaknya yang disayangi dibawa ke seberang, segera ia memberanikan diri menempuh bahaya untuk mengikutinya, kemudian kawanan domba yang lainpun ikut menyeberang.
Begitu melihat kejadian ini, si suami segera berkata, “Cukuplah.” Sejak hari itu dia kembali dibangunkan. Di kemudian hari ia bersaksi, “Karena Allah tidak menghendaki aku tertinggal di seberang sungai ini, maka Dia telah membawa anakku menyeberang lebih dulu. Domba yang begitu bodoh saja mengetahui dan akhimya ikut menyeberang, mengapa aku masih saja berlambat-lambatan dan tidak mau segera menyeberang?”
(sumber: literatur Yasperin)
44. JUST AS I AM
Ada satu syair nyanyian yang mengatakan, “Adaku ini tak layak…”
(Kid. 724). Nyanyian ini ditulis oleh seorang saudari yang berusia dua
puluh tahun lebih. Sejak kecil saudari itu telah mempunyai perasaan,
bahwa dirinya adalah orang berdosa. Orang seperti dia ini bagaimana bisa
berjumpa dengan wajah Allah? Dia telah sering memasuki gedung-gedung
kebaktian, dan menemui banyak pendeta. Dia bertanya kepada mereka, “Apa
yang harus kuperbuat agar beroleh selamat?” Banyak orang memberi tahu
dia, “Tunggu hingga Anda berbuat baik, berbuat lebih baik, baru percaya
Tuhan Yesus.” Juga ada yang menganjurinya, “Banyak-banyaklah berdoa,
membaca Alkitab.” Ada juga orang yang menganjurinya agar banyak berbuat
amal, berbuat bajik. Banyak pula orang yang memberitahunya, bahwa ia
harus berbuat ini, harus berbuat itu. Setelah lewat tujuh atau delapan
tahun kemudian, keadaannya malah lebih jelek daripada keadaan
sebelumnya.
Akhirnya ia berjumpa dengan seorang penginjil tua, ia bertanya kepadanya, “Apa yang harus kuperbuat agar aku bisa mendekati Allah dan beroleh selamat?” Orang tua itu menumpangkan kedua tangannya ke atas kedua bahunya serta berkata, “Dengan keadaan inilah engkau datang kepada Allah.” Dengan rasa terkejut dan heran ia mundur serta berkata, “Apakah saya tidak perlu berbuat baik? Apakah aku tak perlu memperbaiki diriku dulu, baru kemudian percaya Tuhan Yesus?” Penginjil tua itu berkata, “Tidak perlu! Dengan keadaan inilah engkau datang kepada Tuhan.” Sejak hari itu ia baru mengerti, ia baru tahu bahwa dengan keadaannya yang sekarang inilah ia boleh datang kepada Tuhan.
Perempuan muda ini memberitahukan keadaan sakitnya kepada dokter yang Allah utus, Yesus Kristus; lalu ia mendapatkan kesembuhan. Setelah itu ia pulang dan menggubah sebuah kidung yang berbunyi, “Adaku ini tak layak, . . . Tuhan kudatang pada-Mu.” Jadi, apakah yang disebut kasih karunia? Kasih karunia ialah sesuai dengan apa adaku, tidak perlu diubah, aku datang kepada Tuhan. Tuhan Yesus menghendaki orang berdosa membawa keadaan asalnya datang kepada Tuhan, bersandar kepada-Nya.
(sumber: literatur Yasperin)
Akhirnya ia berjumpa dengan seorang penginjil tua, ia bertanya kepadanya, “Apa yang harus kuperbuat agar aku bisa mendekati Allah dan beroleh selamat?” Orang tua itu menumpangkan kedua tangannya ke atas kedua bahunya serta berkata, “Dengan keadaan inilah engkau datang kepada Allah.” Dengan rasa terkejut dan heran ia mundur serta berkata, “Apakah saya tidak perlu berbuat baik? Apakah aku tak perlu memperbaiki diriku dulu, baru kemudian percaya Tuhan Yesus?” Penginjil tua itu berkata, “Tidak perlu! Dengan keadaan inilah engkau datang kepada Tuhan.” Sejak hari itu ia baru mengerti, ia baru tahu bahwa dengan keadaannya yang sekarang inilah ia boleh datang kepada Tuhan.
Perempuan muda ini memberitahukan keadaan sakitnya kepada dokter yang Allah utus, Yesus Kristus; lalu ia mendapatkan kesembuhan. Setelah itu ia pulang dan menggubah sebuah kidung yang berbunyi, “Adaku ini tak layak, . . . Tuhan kudatang pada-Mu.” Jadi, apakah yang disebut kasih karunia? Kasih karunia ialah sesuai dengan apa adaku, tidak perlu diubah, aku datang kepada Tuhan. Tuhan Yesus menghendaki orang berdosa membawa keadaan asalnya datang kepada Tuhan, bersandar kepada-Nya.
(sumber: literatur Yasperin)
45.Sekarang Kita Tidak Mengerti
Di Hangchow (China) ada sebuah pabrik tenun sutera. Mereka
menenun sutera dengan benang sutera yang beraneka warna. Jika dilihat
dari belakang, tenunan itu sangatlah kacau dan tidak jelas apa yang
ditenun itu; lebih-lebih bagi orang awam. Tetapi jika kita melihat
bagian depannya yang telah selesai ditenun, ternyata sangat indah
sekali; di atasnya ada gambar manusia, bunga-bunga, gunung atau sungai.
Sewaktu mereka menenun, segalanya tidak jelas, hanya terlihat
benang-benang yang warna-warni itu berjalan keluar masuk.
Demikian pula, banyak peristiwa yang kita alami, tanpa kita ketahui maknanya. Gambar apa yang hendak Allah bentuk, tidak kita ketahui. Tetapi setiap helai benang yang Allah pakai untuk mengatur kita itu bermanfaat bagi kita, dan setiap bentuk gambar sesuai dengan pengaturan-Nya. Setiap lingkungan yang diatur Allah bertujuan menciptakan satu karakter yang kudus bagi kita. Setiap peristiwa yang kita alami mengandung nilai-nilai tertentu. Mungkin hari ini sama sekali tidak kita ketahui, tetapi pada suatu hari kelak kita akan jelas. Walau ada perkara tidak terasa indah pada saat ini, tapi setelah lewat sejangka waktu, kita akan mengetahui dengan jelas mengapa Tuhan mengatur demikian, dan apa sebenarnya tujuan Tuhan.
(sumber: literatur Yasperin)
Demikian pula, banyak peristiwa yang kita alami, tanpa kita ketahui maknanya. Gambar apa yang hendak Allah bentuk, tidak kita ketahui. Tetapi setiap helai benang yang Allah pakai untuk mengatur kita itu bermanfaat bagi kita, dan setiap bentuk gambar sesuai dengan pengaturan-Nya. Setiap lingkungan yang diatur Allah bertujuan menciptakan satu karakter yang kudus bagi kita. Setiap peristiwa yang kita alami mengandung nilai-nilai tertentu. Mungkin hari ini sama sekali tidak kita ketahui, tetapi pada suatu hari kelak kita akan jelas. Walau ada perkara tidak terasa indah pada saat ini, tapi setelah lewat sejangka waktu, kita akan mengetahui dengan jelas mengapa Tuhan mengatur demikian, dan apa sebenarnya tujuan Tuhan.
(sumber: literatur Yasperin)
46.Buah Pear yang Berulat
Beberapa tahun yang lalu, saya memberitakan Injil di Amoy.
Suatu hari saya berkhotbah bersama sekerja lain bermarga Wang di salah
satu desa. Ketika kembali, waktu itu telah larut malam, kami merasa
sangat haus. Semua toko di sepanjang jalan sudah tutup, dan tidak ada
tempat yang menyediakan air untuk diminum. Ketika sampai di ujung desa,
kami melihat warung kecil yang masih terbuka pintunya. Dengan sangat
gembira kami membeli dua buah pear besar, khusus memilih yang besar,
bersih, tidak ada lubang atau cacatnya di luar. Kami membelinya dan
memakannya sambil meneruskan perjalanan. Sejenak kemudian, kami
merasakan keganjilan pada rasa buah itu. Begitu kami memeriksa buah itu
di bawah lampu, ternyata bagian dalamnya berulat. terpaksa kami harus
membersihkan ulat-ulat itu dulu, baru memakan sisa buah itu.
Saya berkata kepada saudara Wang, “Kulit buah pear itu
kelihatannya mengkilap, tanpa lubang sedikit pun. Tahukah Anda bagaimana
ulat itu masuk ke dalam buah pear itu? Saya beri tahu Anda. Ketika
pohon pear berbunga, ulat-ulat sudah meletakkan telur mereka di dalam
inti bunga pear. Ketika bunga-bunga itu mulai terbentuk menjadi buah,
telur-telur ulat menetas dan tumbuh di dalamnya. Dari luar, buah pear
itu kelihatannya baik, tetapi di dalamnya penuh dengan ulat.”
Kejadian ini tepat dengan yang kita bicarakan. Kejahatan manusia tidak hanya dalam sikap mereka, karena pada dasarnya manusia memang bobrok dalam hayatnya. Cara penyelamatan Kristus bukanlah mengubah tingkah laku di luar, tetapi dengan memberi Anda suatu hayat lain yang lebih baik ke dalam Anda – hayat Allah sendiri.
(sumber: literatur Yasperin)
Kejadian ini tepat dengan yang kita bicarakan. Kejahatan manusia tidak hanya dalam sikap mereka, karena pada dasarnya manusia memang bobrok dalam hayatnya. Cara penyelamatan Kristus bukanlah mengubah tingkah laku di luar, tetapi dengan memberi Anda suatu hayat lain yang lebih baik ke dalam Anda – hayat Allah sendiri.
(sumber: literatur Yasperin)
47. Bahaya Individualisme
Saudara-Saudara,
saya pernah membaca sebuah cerita dongeng dari negeri Tiongkok. Alkisah
ada orang tua yang memiliki tujuh orang anak kembar. Setiap anak
diberikan kekuatan ajaib oleh orang tuanya. Ada yang memiliki kekuatan
api, tanah, air, angin dan lain sebagainya. Suatu kali orang tuanya
memberikan suatu tugas khusus kepada anak-anak-Nya.
Untuk menyelesaikan
tugas ini, mereka harus bekerja sama dan menggunakan kekuatan mereka
masing-masing. Sebelum menyelesaikan tugas tersebut, menguji coba dulu
kekuatan mereka. Masing-masing menunjukkan kekuatan mereka. Ketika
melihat saudara kembarnya yang lain, yang satu mulai berpikir bahwa
kekuatan dirinyalah yang lebih baik dari yang lain. Kemudian
masing-masing menganggap diri mereka lebih unggul dari yang lainnya.
Mereka mulai memandang negatif saudara kembar yang lainnya. Mereka mulai
adu kekuatan dan saling melukai. Mereka sibuk dengan urusan
mereka sendiri dan melupakan tugas yang diberikan oleh orang tuanya yang
harus mereka kerjakan bersama-sama.
Saudara-Saudara,
ketujuh anak kembar ini lupa bahwa mereka adalah saudara kembar, yang
mempunyai orang tua yang sama. Kekuatan yang berasal dari orang tua
mereka. Mereka juga lupa untuk menyelesaikan tugas mereka. Sebenarnya di
mana letak permasalahannya sehingga mereka bisa melupakan semuanya itu?
Masalahnya berawal ketika ketujuh anak kembar ini memiliki pikiran
bahwa diri mereka sendirilah yang paling hebat. Ketika mereka mulai
mengeksklusifan diri mereka.
Saudara-Saudara,
dari cerita ini, kita bisa menarik sesuatu yang baik, bahwa dengan
mengeksklusifkan diri itu dapat menimbulkan masalah. Kita harus waspada
karena kita bisa saja terjebak pada pemikiran yang sama, bahwa bisa saja
kita menganggap bahwa saya atau kelompok saya lebih baik dari yang
lain. Cerita ketujuh anak kembar ini ingin menyampaikan masalah
moralitas saja. Tuhan Yesus tidak menginginkan kita untuk memiliki karakter yang mengeksklusifkan diri dari sesama orang percaya.
48. Kasih Sejati
John
dan Andy bersahabat sejak kecil. Saat mereka remaja, pecahlah perang
dunia kedua. Mereka berdua harus ikut wajib militer. Mereka ditugaskan
di garis depan medan perang. Pada suatu pagi yang berkabut, kapten
mereka memimpin mereka untuk menyerang markas musuh. Namun, sinar
matahari telah menghapus kabut itu sebelum mereka sampai di dekat markas
musuh. Mereka pun langsung terlihat oleh musuh. Musuh segera menembak
mereka secara membabi buta. Mereka kemudian berusaha lari
menyelamatkan diri, termasuk John dan Andy. Sesampainya di markas,
ternyata John tidak ada. Andy segera meminta ijin kepada kaptennya
untuk mencari Andy di daerah musuh. Tentu saja kapten itu menolak
karena itu sangat berbahaya. Bisa jadi John juga telah meninggal.
Namun, Andy tidak menghiraukan larangan kaptennya. Ia pergi mencari
John.
Setengah jam kemudian Andy kembali dengan berlumuran darah. Sang
kapten pun marah besar dan berkata: “Apa kubilang, John sudah mati dan
kau pun tertembak. Sungguh sia-sia” Andy berkata: “Tidak sia-sia,
karena aku mendengar kata-kata terakhirnya” Karena penasaran, sang
kapten bertanya lagi” “Memangnya apa yang ia katakan sampai kau rela
mempertaruhkan nyawamu?”
John berkata: “Saya tahu kau pasti akan
kembali mencariku, aku mengasihimu sahabatku” Dia mengatakannya sambil
tersenyum puas. Oleh karena kasihnya kepada John, Andy rela
mempertaruhkan nyawanya untuk mencari sahabatnya ini. Memang usaha Andy
ini tampaknya sia-sia karena Andy tertembak dan John meninggal. Namun,
sebenarnya hal ini tidak sia-sia karena sampai akhir hidupnya, John
melihat bahwa Andy, sahabatnya ini tetap mengasihi dia.
Ada
dua orang pria yang bersahabat. Mereka bernama Albert Durer dan Hans.
Mereka ingin sekali masuk ke sekolah seni lukis dan pahat. Masalahnya,
mereka tidak mempunyai uang. Kemudian Hans mempunyai ide untuk
mengatasi masalah tersebut. Hans akan bekerja untuk membiayai kuliah
Albert. Nanti setelah Albert lulus dan menjadi pelukis, maka Albert
yang akan membiayai kuliah Hans. Hans bekerja sebagai kuli bangunan.
Lalu Albert masuk ke sekolah seni lukis dan pahat. Tahun demi tahun pun
berlalu. Akhirnya Albert lulus dari sekolahnya. Dengan penuh
semangat, ia pergi ke rumah Hans.
Ketika tiba di rumah Hans, ia mengetuk pintu berulangkali, namun tidak
ada jawabannya. Lalu Albert mengintip dari jendela. Apa yang
dilihatnya? Ternyata Hans sedang berlutut. Kedua belah tangan
sahabatnya itu mengarah ke atas. Hans sedang berdoa sambil menangis:
“Oh Tuhan, tanganku ini. Tanganku sudah menjadi kaku dan kasar.
Tanganku sudah tidak bisa dipakai untuk melukis. Biarlah Albert saja
yang menjadi pelukis.” Ternyata pekerjaan Hans sebagai seorang kuli
bangunan telah membuat tangannya menjadi kaku dan kasar. Ia tidak
mungkin menjadi pelukis lagi. Apa yang dilakukan Hans ini tentunya
tidak bisa dilupakan Albert seumur hidupnya. Itulah sebabnya, Albert
mengabadikan kasih dan pengorbanan sahabatnya ini dengan membuat suatu
lukisan yang diberi nama “Tangan Berdoa” atau Praying Hand yang sangat terkenal itu.
Saudara-saudara, tentunya kita ingin memiliki sahabat seperti Hans.
Seorang sahabat yang penuh kasih dan rela berkorban bagi kita. Mungkin
kita juga ingin supaya kita menjadi sahabat yang terbaik bagi sahabat
kita. Persahabatan antara Albert dan Hans adalah satu dari sekian
banyak contoh persahabatan sejati yang kita dambakan. Namun, bagaimana
caranya agar persahabatan ini dapat kita miliki? Persahabatan sejati
membutuhkan dasar yang kokoh. Itulah sebabnya, kita perlu tahu bahwa persahabatan sejati dalam hidup orang percaya adalah persahabatan yang berdasarkan kasih dan kesetiaan.
Saudara-saudara, perikop yang baru saja kita baca ini juga merupakan
kisah persahabatan sejati dalam Alkitab. Kisah ini mirip dengan persahabatan Daud dan Yonatan di 1 Samuel 18:1-.
.
49. Menanti Dengan Setia
Bertahun-tahun
yang silam, seorang pemuda dengan kekasihnya datang ke pantai di malam
hari untuk saling berpisah. Sang pemuda hendak berlayar ke negeri yang
jauh di seberang lautan dan mengadu nasib. Ia mengumpulkan kayu bakar,
menyalakan api unggun dan membicarakan rencana mereka. Ia berjanji
ketika ia kembali nanti, ia akan mengambil kekasihnya sebagai isteri.
Kemudian sang pemuda meminta kekasihnya untuk menyanyikan lagu
kesayangan mereka, lagu cinta yang yang amat mereka sukai. Setelah
saling berucap janji setia untuk menanti, ia meminta kekasihnya untuk
menyanyikan lagu itu satu kali lagi. Ia berkata, “Aku akan kembali
untukmu, dan aku akan membawamu ke sebuah rumah yang indah di pulau nan
jauh di sana ke mana aku akan pergi. Tapi sementara aku jauh darimu,
aku akan kesepian, mungkin putus asa, dan setiap hari di waktu seperti
ini, aku akan memikirkanmu dan mengingat kembali malam perpisahan ini.
Kemudian aku akan kembali di waktu yang sama seperti sekarang, dan
ketika aku melihat api unggunmu dan mendengar nyanyianmu, aku tahu bahwa
kamu telah setia dan tekun menanti.” Dengan bercucuran air mata, sang
gadis berjanji dan sambil mengucapkan salam perpisahan untuk terakhir
kalinya, sang pemuda naik ke kapal dan berlayar di tengah gelapnya
malam. Ia pergi jauh untuk mengadu nasib dan entah apa yang akan ia
dapat.
Keesokan
malamnya, sesuai dengan janji, sang gadis datang ke pantai itu. Ia
berdiri di sisi api unggun dan menyanyikan lagu mereka sambil memikirkan
dengan lembut kekasihnya yang telah pergi di kejauhan laut. Malam demi
malam ia memegang janjinya. Bulan-bulan pun berlalu, kemudian tahun
demi tahun, tapi setiap malam ia berdiri di samping api unggun dan
menyanyikan lagu cinta mereka. Teman-temannya menasehati agar ia
berhenti datang ke pantai dan mencari orang lain. Mereka mengatakan
bahwa tentulah sang pemuda telah lupa akan janjinya dan tidak akan
pernah kembali. Tapi sang gadis memiliki keyakinan yang kokoh pada
kekasihnya. “Ia telah berjanji, maka ia pasti akan kembali untukku,”
kata sang gadis. Jumlah tahun yang banyak telah mengukir jejaknya di
wajah dan rambut sang wanita, tapi tetap, kekasihnya tak kunjung datang.
Suatu
malam, lebih semangat dari biasa, sang wanita datang ke tempat biasa di
malam hari. Harapan telah pupus rasanya, tapi dalam hatinya ia tahu
bahwa ia harus setia. Api meredup tertiup angin pantai, dan iapun
mengumpulkan kayu bakar sekali lagi. Ia menyanyikan kembali lagu yang
telah dinyanyikan ribuan kali. Ketika ia hendak pulang ke rumahnya, ia
mendengar suara dayuhan kapal di kejauhan. Mungkin seorang nelayan yang
pulang malam. Tapi pengharapan cinta wanita ini membuatnya gigih, ia
menyalakan api yang baru sekali lagi, dan sekali lagi menanyikan lagu
cinta mereka. Kapal itu mendekat dan semakin mendekat. Dan pemuda itu
yang juga telah menjadi tua datang. Ia turun dari kapal dan mengenggam
tangan kekasihnya, “Aku telah menunggu untuk melihat apimu dan mendengar
lagu kita,” ia berkata. “Dan aku tahu, engkau dengan siap sedia
senantiasa menanti. Marilah kita pergi ke rumah indah yang telah
kubangun untukmu di seberang sana.”
Sang
wanita menanti dengan siap sedia, karena ia melakukan apa yang
diinginkan oleh kekasihnya. Ia menyalakan api dan menyanyikan lagu
mereka. melakukan apa yang diinginkan kekasihnya karena ia mengenal
kekasihnya. Sebagai orang Kristen, kita juga sedang menantikan Kekasih
kita. Dalam penantian itu, dibutuhkan lebih dari sekadar penantian
pasif, yaitu sebuah kesiap-sediaan. Untuk dapat siap sedia, kita harus
tahu apa yang Ia inginkan ketika Ia mendapati kita? Demi mengetahuinya,
kita harus mengenal Dia.
Orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak, "Kuda ini bukan kuda bagi saya," ia akan mengatakan. "Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual seseorang. Ia adalah sahabat bukan milik. Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat." Orang itu miskin dan godaan besar. Tetapi ia tetap tidak menjual kuda itu.
Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya. "Orang tua bodoh," mereka mengejek dia, "sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami sudah peringatkan bahwa kamu akan di rampok. Anda begitu miskin. Mana mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga? Sebaiknya anda sudah menjualnya. Anda boleh minta harga apa saja. Harga setinggi apapun akan di bayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan anda dikutuk oleh kemalangan."
Orang tua itu menjawab, "Jangan bicara terlalu cepat. Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu; selebihnya adalah penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana Anda dapat ketahui itu? Bagaimana Anda dapat menghakimi?"
Orang protes, "Jangan menggambarkan kita sebagai orang bodoh! Mungkin kita bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak di perlukan. Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah kutukan."
Orang tua itu berbicara lagi, "Yang saya tahu hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan. Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan terjadi nanti?"
Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak di curi, ia lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul di sekeliling tukang potong kayu itu dan mengatakan, "Orang tua, kamu benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat. Maafkan kami."
Jawab orang itu, "Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah balik. Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia, tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini adalah berkat? Anda hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana anda dapat menilai? Kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu kata. Yang anda tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu karena apa yang saya tidak tahu."
"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu kepada yang lain. Jadi mereka tidak banyak berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian dijual untuk banyak uang.
Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul sekitar orang tua itu dan menilai.
"Kamu benar," kata mereka, "Kamu sudah buktikan bahwa kamu benar. Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tuamu kamu tidak ada siapa-siapa untuk membantumu. Sekarang kamu lebih miskin lagi."
Orand tua itu berbicara lagi, "Ya, kalian kesetanan dengan pikiran untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan. Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu itu berkat atau kutukan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang sepotong-sepotong."
Maka terjadilah 2 minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya anak si orang tua tidak diminta karena ia sedang terluka. Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka mungkin tidak akan melihat anak-anak mereka kembali.
"Kamu benar, orang tua," mereka menangis, "Tuhan tahu kamu benar. Ini membuktikannya. Kecelakaan anakmu merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya".
Orang tua itu berbicara lagi, "Tidak mungkin untuk berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini: anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui. Hanya Allah yang tahu."
Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian.
Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman
dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan. Kita harus
simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui
seluruh cerita.
"Janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri."
Ia adalah yang paling tahu. Ia menulis cerita kita. Dan Ia sudah menulis bab yang terakhir. (In The Eye of The Storm - Max Lucado) ( Sumber : Renungan Kristen Ilustrasi Khotbah )
51. CINTA SEORANG IBU
Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya
Suaminya sudah lama meninggal karena sakit
Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya.
Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi
Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan :
"Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tida k berbuat dosa lagi
Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati"
Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk
penjara karena kejahatan yang dilakukannya
Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap
Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung
pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari
di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi
Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu
dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan
"Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya"
Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan
Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman
Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah
Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan
Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan
Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut
Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya
Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba
Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik,
akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang
Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya t ida k ada
Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah
Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat
Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber
darah
Tahukah anda apa yang terjadi?
Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah
dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng t ida k berbunyi,
dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng
Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata
Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan
Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya
Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng
Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu utk anaknya
Betapapun jahat si anak, ia tetap mengasihi sepenuh hidupnya.
Marilah kita mengasihi orang tua kita masing masing selagi kita masih mampu
karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di dunia ini
Sesuatu untuk dijadikan renungan utk kita..
Agar kita selalu mencintai sesuatu yang berharga yang t ida k bisa dinilai dengan apapun
There is a story living in us that speaks of our place in the world
It is a story that invites us to love what we love and simply be ourselves
Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan
Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi
Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan
Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan
Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan
Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati
Ambillah waktu untuk memberi, itu membuat hidup terasa berarti
Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan
Gunakah waktu sebaik mungkin, karena waktu t ida k akan bisa diputar kembali
Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu utk anaknya
Betapapun jahat si anak, ia tetap mengasihi sepenuh hidupnya.
Marilah kita mengasihi orang tua kita masing masing selagi kita masih mampu
karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di dunia ini
Sesuatu untuk dijadikan renungan utk kita..
Agar kita selalu mencintai sesuatu yang berharga yang t ida k bisa dinilai dengan apapun
There is a story living in us that speaks of our place in the world
It is a story that invites us to love what we love and simply be ourselves
Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan
Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi
Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan
Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan
Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan
Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati
Ambillah waktu untuk memberi, itu membuat hidup terasa berarti
Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan
Gunakah waktu sebaik mungkin, karena waktu t ida k akan bisa diputar kembali
52. Ayah maafkan aku..
Sepasang
suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan
anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan
ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah
dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.
Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang
paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan,
tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak
kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil
itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini
pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya
bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah
kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil.
Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam,
kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu
berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah
pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan
bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi
masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" ....
Pembantu rumah yang tersentak
dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah
padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi
diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak
tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?"
hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara
ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia
berkata "DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ...kan!" katanya
sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang
sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di
depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya.
Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus
ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang
tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tdk
tahu hrs berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan
dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah
diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu,
membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak
tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu
rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut
menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat
luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil
itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.
Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah
mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak
memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu.
Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si
ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski
setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab
pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum
si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat
anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar
pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya
bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik..
Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang
sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah
sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat
inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata
dokter
tersebut yang mengusulkan
agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah
dan infeksi akut..."Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya
maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu.
Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu.
Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata
isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan
pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan
habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua
tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian
ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua
menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan
air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak
mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah..
sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa
sedihnya. "Dita juga sayang Mbok
Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?... Bagaimana Dita mau bermain nanti?... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang.
Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…..
Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi...,
Namun...., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.
Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?... Bagaimana Dita mau bermain nanti?... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang.
Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…..
Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi...,
Namun...., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar